PENDAHULUAN
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyusun Proposal Kegiatan Temu Kangen Alumni SLTP Negeri 02 Pejagoan Kebumen.
Proposal ini kami susun untuk Kegiatan Temu Kangen atau Reuni Alumni SLTP Negeri 02 Pejagoan Kebumen Mulai dari angkatan Pertama sampai angkatan ke Tujuh ( 1998 – 2004 ).
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak baik moril maupun materiil dalam penyusunan proposal ini.
Kami menyadari bahwa proposal yang kami buat ini banyak memiliki kekurangan bahkan kesalahan, oleh karena itu kami memohon maklum dan maaf yang setulus tulusnya.
Ttd,
Panitia
A. LATAR BELAKANG
Sudah sekian lama kita telah berpisah sejak lulus dari pendidikan di SMP Negeri 02 Pejagoan Kebumen. Kita hanya bertemu dengan beberapa teman yang masih tetangga atau masih ada hubungan keluarga, karena secara umum mulai disibukkan oleh pekerjaan dan urusan rumah tangga masing-masing. Rasa kangen bertemu teman-teman lama seolah-olah terabaikan sehingga tidak pernah ada lagi forum ngumpul baik dengan nama reuni maupun arisan alumni. Komunikasi sesama alumni hanya terjalin oleh mereka yang kebetulan satu kota atau hanya dengan teman dekat tertentu dan sangat terbatas.
Akhir-akhir ini rasa kangen untuk bertemu dengan teman lama dan keinginan berbuat sesuatu semakin kuat. Dengan diawali obrolan – obrolan kecil telah menghasilkan pertemuan di Jakarta pada awal Maret 2009 yang dihadiri oleh beberapa teman dari Jakarta ( semua temen- teman hampir semua kerja di Jakarta). Kesepakatan dalam pertemuan di Jakarta adalah mengagendakan untuk mengadakan reuni alumni tahun 1998 – 2004 SMP N 02 Pejagoan Kebumen.
Berita ini kemudian mendapat respon positif dari teman-teman lainnya dan kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan di Monas tepatnya, sampai akhirnya terbentuk kepanitiaan yang akan memfasilitasi reuni yang direncanakan pelaksanaannya pada tanggal 24 September 2009 bertempat di SMP N 02 Pejagoan Kebumen.
Reuni ini selain sebagai forum kangen-kangenan, juga akan memberikan tali asih kepada para guru kita, khususnya kepada guru yang secara riil mengajar kita baik mulai dari kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 3 (tiga).
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud diadakannya reuni ini adalah untuk menjalin tali silaturahmi dan meningkatkan rasa persaudaraan sesama Alumni SMP N 02 Pejagoan Kebumen. Sedangkan tujuannya antara lain adalah :
- Melepas kangen diantara teman-teman dan sekaligus sebagai forum memperkenalkan keluarganya (Suami, Isteri dan Anak)
- Memberikan tali asih kepada para guru khususnya yang dahulu mengajar kita.
- Menyusun data base alumni.
- Merencanakan pembentukan wadah (organisasi) alumni.
- Dapat ditetapkannya kurun waktu untuk reuni yang akan datang.
- Mempererat Persatuan dan Kesatuan
C. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Kegiatan tersebut akan di laksanakan pada hari Kamis, Tanggal 24 September 2009. Bertempat di halaman sekolah SLTP Negeri 02 Pejagoan di Desa Peniron Kec. Pejagoan Kab. Kebumen. Read the rest of this entry »
Selamat tinggal Jakarta Selamat Datang Kebumen
Sebelum saya berangkat ke kota tujuan, Kebumen, mumpung masih ada waktu buat otak atik jari di keyboard, tidak salahnya saya untuk membuat suatu agenda yang nantinya akan membuahkan hasil, yaitu PENGALAMAN.
Tepatnya pada tanggal 11 Juni 2009 atau hari ini, kami (Ranger) bersiap untuk meluncur ke ‘TKP’ dengan misi yang sudah lama di tunggu- tunggu, ‘EKSEKUSI’. Eksekusi kali ini merupakan moment terakhir untuk pembuatan film Dokumenter yang sebelumnya sudah melakukan riset terlebih dulu sebulan yang lalu.
Untuk eksekusi kali , Ranger sudah mempersiapkan dengan matang (dinilai dari segala aspek) untuk mencari hasil yang maksimal. Harapan tetap ada untuk menjadi yang terbaik di antara team lain, tapi sebagai kelas amatir, kami semua berusaha semaksimal mungkin layaknya kelas profesional.
Untuk produksi kali ini hal yang terpenting adalah bagaimana caranya kami dapat menyelesaikan tugas itu dan mendapatkan nilai yang baik, syukur – syukur karya kami diikut sertakan pada kompetisi yang sering di adakan di Metro TV (Eagle Awards). Kami sebagai Dokumentaris hanya bisa berusaha menyajikan dan menonjolkan suatu kegiatan yang selama ini kurang diperhatikan oleh Pemda setempat maupun Pemerintah pusat atau bahkan sengaja tidak diperhatikan, makanya kami coba membuat visualisasinya agar penikmat visual dapat mencerna apa isi yang disampaikan lalu dapat menanggapinya bagi mereka yang kritis dengan karya kami.
Sengaja kami membuat tulisan seperti ini di blog, karena sebenarnya sudah tradisi tangan yang lagi datang ‘moodnya’. Selagi mood, makanya kami langsung coba duduk di depan ‘kompi’ ditemani secangkir mocacino, ehm…enak dan nikmat banget seperti tagline iklan – iklan kopi yang selalu ditayangkan di televisi, siapa tahu nanti ada hamba Tuhan yang berkelanana di dunia maya dan tanpa sengaja membaca tulisan ini, setidaknya menjadi bacaan yang ringan bagi mereka.
Tapi kali ini merupakan hari yang paling menyenangkan untuk dapat pergi ke luar kota walaupun tetap kaitannya dengan tuga kuliah. Disaat banyak sekali tugas yang mengantri di belakang, kami coba untuk melupakan sejenak tugas – tugas itu, setidaknya bisa ‘merefresh’ otak yang selama ini sudah padat dengan campur aduknya hal – hal yang seharusnya disingkirkan sebelum penyakit stroke datang.
nanti sore pukul 21.00 wib waktu stasiun Pasar Senen, kami bersiap untuk naik ‘PROGO’ menuju Kebumen. Seperti biasa di dalam ‘Progo’ memakan waktu hampir sepuluh jam dan tiba di kota tujuan (Kebumen) pada pukul 06.30 wib, itupun kalau tidak ada ‘Macet’ sepanjang perjalanan, tapi okelah itu tidak menjadi soal, judulnya membuat tugas sambil travelling. Untuk sementara waktu ( empat hari), kami hanya bisa mengucapkan “selamat Tinggal Jakarta dan Selamat datang Kebumen” (Ayos)
Nasi sudah Menjadi Bubur?
Malam itu aku mendapatkan cerita yang sangat berharga dari seseorang dimana dia curhat tentang dirinya, walau aku tidak pernah mengenal tentang dia seluruhnya tapi setidaknya malam itu aku mendapatkan satu cerita lagi yang itu semua menjadi pengalaman tambahan bagi aku.
Dengan tampang kacau balau, aku melihat orang itu berharap sekali untuk dapat mengutarakan isi hatinya yang sedang kalut, sampai pada akhirnya diapun bercerita.
Saat ini dia sedang mengisahkan dirinya bahwa menganggap dirinya orang yang tidak berguna di mata semua orang, hanya gara-gara satu permasalahan, dia tidak bisa menyelesaikannya sampai akhirnya hal yang tadinya tidak bermasalah, mau tidak mau jadi bermasalah. Lucu memang kedengarannya.
Sudah lama dia satu tempat tinggal dengan kawan-kawannya, menurutnya sudah puluhan tahun tinggal bersama, walau benturan dalam satu “kandang”, itu merupakan hal yang sudah biasa. Tapi pada kesempatan yang lain, tapi ini mungkin juga “klimaksnya” benturan-benturan yang selama ini bisa diatasi, saat ini mungkin karena benturan itu terlalu keras, dia tidak bisa menghalaunya. Dengan mata yang mulai banjir dengan peluhnya, dia terus bercerita. Kali ini dia dan kawan-kawan memang harus benar-benar berpisah padahal hubungan itu sudah terjalin erat semenjak dia dan kawan – kawan bersatu dalam satu “kandang” dan satu tujuan yaitu “perang” dalam mencari segudang ilmu dan sesuap nasi.
Memang benar masalah yang terjadi pada dirinya itu tidak jauh dari rupiah dengan “bumbu-bumbu” yang ada, akhirnya semakin meruncinglah kemelut itu. Kata pepatah “Nasi sudah menjadi bubur”, tidak mungkin itu akan dikembalikan menjadi nasi. Tapi dia cukup aneh, pepatah itu dia respon dengan semangat yang dipaksakan. Dikatakannya pepatah itu berlaku bagi orang – orang yang patah semangat dan tidak mempunyai jiwa optimis dan selalu bercermin pada orang lain, dimana cermin itu akan membuatnya pesimis dalam segala bidang.
Dari kedengarannya, dia “jago” sekali berkilah sampai – sampai aku merasa minder mendengarnya.Oke…kita lanjutkan pembicaraan yang tadi. Dia terus bercerita hingga inti permasalahan aku dapatkan. Hanya gara – gara dia keluar kota dalam kurun waktu yang lama dan tidak ada kontak maupun komunikasi dengan rekan “satu kandang” ditambah lagi yang seharusnya ada “pembayaran” menginap di “kandang” itu, dia sama sekali tidak memberikan uang yang seharusnya dibayarkan, dalih – dalih itu semua dikatannya karena terlalu sibuknya, sampai akhirnya itu semua lupa atau bahkan dilupakan beberapa waktu. Mungkin ini yang membuat rekan-rekan satu “kandang” kecewa, tapi itu hanya pendapat aku yang menjadi pendengar setia dan budiman. Dia sudah berupaya untuk mengucapkan kata maaf ke mereka tapi yang didapatkan hanya cemoohan dan pengucilan. kedengaranya memang sepele, tapi kenapa hal yang sepele seperti ini membuatnya dia harus melanglang buana untuk mencari tempat singgah yang layak buat dia.
Yang membuat aku salut adalah, dia mengatakan sama sekali tidak membenci kepada rekan-rekannya yang sudah mengucilkannya itu. Entah itu hanya bualannya saja atau mungkin sedang menata bahasa satranya saja, tapi kalau aku lihat dari tatapannya yang polos dan iklas itu, saat ini aku percaya apa yang dikatannya.Sekarang, dia masih akan terus menunggu respon yang baik dari mereka walaupun dia harus mengemis, tapi demi kemenangan dia tidak perduli itu semua.
Dari kisahnya yang aku dengarkan, dapat aku simpulkan adalah semua perbuatan yang pernah kita lakukan pastinya kita menemukan yang namanya benturan, baik benturan kecil maupun benturan yang sangat dasyat. di sini, bagaimana caranya kita mengendalikan itu semua. Walaupun segala bahasa yang ada di dunia ini bisa dikatakan “RE RUN”, tapi memang itu semua untuk merespon segala situasi dan kondisi, yang artinya bila sebuah kalimat itu digunakan pada waktu yang tepat, otomatis kita akan memuji atau bahkan akan mengulang kalimat – kalimat yang kita ucapkan, akan tetapi bila kalimat – kalimat yang kita ucapkan di saat momentnya “negatif” sudah barang tentu kita akan memendam jauh – jauh kalimat itu. Intinya kita tidak akan pernah terlepas dengan hal itu, Pengendalian diri itu kuncinya.
Gara-gara FaceBook
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Gue benci banget sama yang namanya FaceBook.Sebenarnya gue kenal Face Book (FB) itu dah cukup lama dan jujur aja awalnya gue sama sekali ngga tertarik sama sekali tapi berhubung lingkungan dan situasi yang mendukung, akhirnya terjerumuslah yang namanya FB itu.
Tapi kali ini gue bener-bener benci dengan situs jejaring itu, gara – gara itu gue dibikin nangis darah sama temen-temen gue.
Saat itu kita semua (RANGER TEAM) dapat tugas bikin Dokumenter, kebetulan sampai saat itu belum buat Proposalnya padahal itu wajib dibuat. Jangankan isi yang akan disampaikan, latar belakang aja belum disentuh sama sekali, mungkin saking sibuknya semua team ngga bisa ke pegang dengan proposal ini. Kemudian di waktu siang hari (kalo gw ngga lupa sih) gw iseng nulis di wall FBnya salah satu team Ranger, tapi ngga tau kenapa tiba – tiba kedua ranger memojokan gw, yang intinya Dokumenter terbengkalai gara-gara gue, alhasil gw jadi bingung. Mungkin orang juga tau kalo kita nulis di dinding FB itukan sensitive, akhirnya gw kirim pesan ke chatnya bahwa kalimat yang ada di dinding itu sangat sensitive yang nantinya akan memancing orang – orang yang baca dan kemungkinan terburuk adalah team bakalan diadu domba.
Tapi team sama sekali ngga mau menjawab pesan yang gue kirim, malahan seantero jagad Face Book tau kasus yang ada di team Ranger. Di sini gue berusaha sabar dan cari titik tengahnya.
Di saat masuk kampus gue coba menegur salah satu team Ranger buat menanyakan soal yang belum lama terjadi di FB tadi siang.Tak disangka jawaban yang di lontarkan salah satu team Ranger membuat gue jadi makin ngga karuan.
NANGIS itu yang gue rasakan setelah pulang dari kampus. Ini bener-bener batin gue keteken kaya ditindih batu dengan berat 100 kg. Tapi untungnya cewek gue dengan setia menemani rasa kalut yang mendera.Bahasa atau kata-kata mutiara sang cewek yang belum lama gue pacarin itu terus meluncur dari manis bibirnya.
Sampai d pagi hari pikiran itu masih terus menggelayuti di otak gue. yah, satu-satunya jalan kata maaf yang akan gue katakan via telepon. Gue coba telpon salah satu team Ranger untuk mengucapkan kata maaf. “Ada apa loe telpon gue, ada urusan apa loe”. Itulah jawaban yang dikatakanya. Gue ngga pernah nyangka kok bisa team ranger jadi sadis kaya gitu.
Setelah terlibat perbincangan yang sengit, klimaksnya adalah MEREKA NGERJAIN GUE. Tapi gue masih terus tanya misi mereka ngerjain gue, dan ini jawabannya. “Ini semua kita lakukan pertama biar loe tau namanya dikerjain dan yang lebih penting lagi dengan sandiwara ini di FB, kita jadi tau mana yang suka dengan Team kita atau yang tidak suka, dan loe tau dari ini semua, mereka terjebak dengan sandiwara kita, tapi kita mohon maaf ya udah ngerjain loe sampai loe nangis-nangis.”. Jawab mereka sambil tertawa puas.
Kalo Hidup Itu…….
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –
Abis mandi langsung kemas – kemas buat berangkat ke kantor, yup cari berita itu tugas gue. Tapi di sini harus ada yang diedit dulu nie sebelum melanglang buana ke dunai yang fana ini, hahahaha…..
intinya harus ke kantor dulu buat ngedit tulisan yang masih acak kadut dah harus diserahin ke bapak Pemred. Tapi dasar aja gue, yang namanya dengan tanggalan, ngga pernah lupa tuh!!!!
Saat ini tepat tanggal 1 Juni 2009, Ada apa yang terjadi?. Buat semua orang yang merasa jadi kuli apapun pasti tau maksud yang baru tadi gue tulis. G-A-J-I-A-N………………,itu intinya yang mau gue omongin. Gajian adalah suatu moment yang dinanti-nantikan oleh orang -orang yang udah terkuras di saat tengah bulan(sedikit curhat nie) dan kayaknya pasti terjadi buat orang yang kerja, tapi udahlah ngomong ngga jelas gini kebanyakan introduce, LEBAY………kalo kata anak kampus.
Walaupun belum sarapan itu ngga masalah buat gue yang penting saat ini adalah hari kemenangan untuk mendapatkan uang yang udah nunggu selama satu bulan penuh. Padahal belum lama masuk kantor, tiba – tiba ruang Finance manggil via phone dan gue tau maksudnya, G-A-J-I-A-N.
Hari yang menyenangkan!!!!!!
BENTUK OUTLINE DISAIN PRODUKSI
Dibawah ini adalah contoh outline Disain Produksi untuk matakuliah Produksi Dokumenter, Drama, Non Drama, Tata Artistik, Teknik Penyutradaraan dan Berita TV yang membedakan hanya bentuk lembar kerjanya saja, untuk mengetahui bentuk atau contoh lembar kerja dari masing-masing crew mahasiswa/i bisa menanyakan langsung kepada dosen pengajarnya.
Lembar Judul Karya
Lembar Persetujuan dan Pengesahan Dosen Pengajar
Lembar Konsultasi Bimbingan Karya Produksi
Kata Pengantar
Daftar Isi
A. Latar Belakang Program
Latar belakang program berisi tentang alasan memilih program tsb, dan alasan pemilihan tema dan judul program serta sub judul per episode.
B. Tujuan dan Program
Berisi tentang tujuan pembuatan program yang dibagi atas tujuan untuk masyarakat, tujuan priktisi, tujuan akademis.
C. Refrensi Pustaka dan Audio Visual
Buku dan program audiovisual apa saja yang menjadi literatur dalam pembuatan program TV.
D. Deskripsi Program (Untuk Tugas Akhir Masuk Dalam Lembar Kerja Produser)
- Kategori Program : ( Hiburan, Education, Informasi )
- Media : ( Televisi dan Radio )
- Format Program : ( Dokumenter, Berita, Drama Televisi, Talk Show, Game show, dll)
- Judul Program : ( Jejak Sang Tomi)
- Durasi Program : 24.menit ( 144 second )
- Target Audience : - Umur : Anak ( 6 -12)
Remaja ( 13 – 17)
Dewasa ( 18 – 35 )
Orang tua ( 36 – keatas)
- Jenis Kelamin :
- Status Ekonomi Sosial : A ( Kelas Atas )
B ( Menengah keatas)
C ( Menengah kebawah)
D ( Kelas bawah)
( Maksimal pemilihan SES 2 tingkatan)
- Karakteristik Produksi : Live, live record / Taping, Record ( Single Camera dan Multi Camera).
- Jam tayang + Alasan : 10.00 – 10.30 WIB
Alasan : Pada jam – jam tersebut para ibu – ibu rumah tangga sedang berada dirumah.
- Pengisi Acara ( Khusus untuk Non Drama)
E. Lembar Kerja Produksi Dokumenter
- Lembar Kerja Produser
· Konsep Program
· Working Schedule
· Breakdown Budgeting
· Shooting Schedule
· Equipment List (Check List Harian)
· Surat izin riset dan liputan.
- Lembar Kerja Sutradara
· Konsep Kerja Sutradara
· Konsep kerja Director
· Out Line Naskah
· Treatment
- Lembar Kerja Penulis Naskah (Reporter)
· Konsep penulisan naskah
· Term Of Refrence (TOR)
· Transkip Wawancara
· Naskah VO
- Lembar Kerja Penata Kamera
· Konsep kerja Kameraman
· Camera Report (Shot list)
· Spesifikasi kamera
- Lembar Kerja Editor
· Konsep Kerja Editor
· Laporan Editing
· Logging Picture
· Proses Pembuatan Program ID
· Spesifikasi Editing
Penutup
CV. Crew
Starting Leader Broadcasting BSI
- Colour Bar
Durasi siar adalah 5 detik. Tone suara tidak boleh diganti dengan suara atau musik.
- Logo BSI
Durasi siar adalah 5 detik. Logo Berada ditengah frame, dibawahnya harus ditulis dengan huruf besar: “AKADEMI KOMUNIKASI JURUSAN PENYIARAN”. Font yang digunakan “Arial” dengan font size 24 pt.
- Program ID
Durasi siar adalah 5 detik. Dalam program ID terdapat informasi judul, format progam, jenis acara, durasi dan sutradara. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
- Counting Leader
Counting leader yang digunakan adalah counting leader Adobe Premiere. Dimulai dari angka 5.
- OBB & Judul Program
Bisa berisi tampilan grafis, trailer (cuplikan-cuplikan gambar) yang diakhiri dengan tulisan judul program. Durasi siar 20-30 detik
- Content Acara
Berupa isi dari progam audio visual yang akan disajikan.
- Kerabat Kerja (Credit Title)
Berisi nama-nama dari kru yang terlibat dalam pembuatan program tersebut. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
- Ucapan terimakasih
Ucapan ditulis secara berurutan. Dimulai dari Ketua Jurusan, Dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2, Dosen-dosen BSI, baru kemudian ucapan terimakasih kepada pihak-pihak lainnya. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
- Copyright
Copyright © Broadcasting_BSI dibawahnya ditulis tahun pembuatan atau tahun diproduksinya karya ini. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
- CV Crew
Berisi foto masing2 kru yang terlibat beserta nama, jabatan, nomor induk mahasiswa. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
- Behind The Scene
Bentuknya adalah slide show foto-foto selama masa produksi. Durasi maksimal menit 2 menit (boleh kurang).
VIDEO KLIP
VIDEO KLIP adalah kumpulan potongan-potongan visual yang dirangkai dengan atau tanpa efek-efek tertentu dan disesuaikan berdasarkan ketukan-ketukan pada irama lagu, nada, lirik, instrumennya dan penampilan band, kelompok musik untuk mengenalkan dan memasarkan produk (lagu) agar masayarakan dapat mengenal yang selanjutnya membeli kaset, CD, DVD.
Memberikan imbas bagi seluruh stasiun TV untuk mendapatkan pemasukan dari iklan yang membeli tayangannya baik dalam bentuk program musik atau sebagai iklan itu sendiri, bahkan juga memberikan kesempatan bagi seluruh insan muda yang kreatif baik sebagai sutradara atau crew kreatif di dalamnya.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MEMBUAT VIDEO KLIP
1. SIMBOL
Tidak perlu adanya keselarasan antara gambar dan lirik, bahkan seringkali tidak
ada hubungan antar keduanya.
2. VERBAL
Gaya desain penggambaran akan disesuaikan dengan isi lirik (gambar dan lirik saling
menyatu).
UNSUR VIDEO KLIP
1. Bahasa Ritme (irama)
Pelajari birama dulu apakah slow beat, fast beat, middle beat dan coba rasakan
dengan ketukan-ketukan kaki untuk memperoleh tempo yang pas.
2. Bahasa Musikalisasi (instrument musik)
Pembuat Video Klip atau biasa disebut VIDEO CLIPPER haruslah mempunyai
sebuah wawasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan musik baik itu jenis
musik, alat musik, bahkan juga profil band.
3. Bahasa Nada
Perhatikan aransemen nada, diskusikan dengan piñata musiknya tentang aransemen
yang dibuat. Selanjutnya rasakan dengan hati nada-nada tersebut.
4. Bahasa Lirik
Seorang VIDEO CLIPPER dituntut mempunyai sebuah imajinasi visual terhadap
lirik dan lagu walaupun tidaklah harus secara verbal.
Jika ada lirik yang mengungkapkan kata ‘CINTA’ maka sebagai simbolisasi tidak
harus dengan bunga, warna pink, atau hati. Bisa saja berupa kertas (surat), sepatu
butut (cinta tanpa mengenal status social), air (cinta yang mengalir). Atau bahkan
bias dengan tarian kontemporer.
5. Bahasa Performance (penampilan)
Selami karakter pemusik, penyanyi, pemain band baik dari latar belakang
bermusiknya, hingga ke profil fisiknya (hidung, mata, style, fashion dan gerak tubuh).
TEKNIS SEDERHANA PEMBUATAN VIDEO KLIP
1. PENENTUAN LOKASI SYUTING
INDOOR
Indoor on place (café, rumah, gedung pekantoran)
Kebutuhan akan property sedikit lebih simple karena kebutuhan property seperti seperti meja, kursi, lemari, lampu hias, buku, dan sebagainya sudah tersedia. Penambahan property cenderung untuk melengkapi kebutuhan story board.
Indoor Studio
Harus mampu menata, membuat bahkan membangun set design sesuai denga kebutuhan story board. Hal ini menjadikan kemampuan pengembangan estetika seni mendapat peranan besar, karena tudgas seorang piñata artistic haruslah menciptakan bukan memanfaatkan set yang sudah ada.
OUTDOOR
Cenderung memanfaatkan segala property dan nuansa alam yang sudah ada dan cenderung yang lebih banyak diadopsi adalah natural keunikan alam atau lingkungannya (di pantai, pasar, gunung, dsb)
2. STORY BOARD
Dalam memproduksi video klip hal pertama yang harus dituangkan dari konsep adalah STORY BOARD, karena dari story board seorang sutradara video klip dapat mengungkapkan imajinasinya melalui gambar-gambar konsep visual yang bercerita.
Dari story board lah seorang klipper akan lebih mudah berkonsentrasi dalam hal-hal yang bersifat teknis visual, penataan cahaya, penataan artistic, camera angle, ataupun performance sang artis.
3. PERALATAN SYUTING/ PRODUKSI
Peralatan yang dibutuhkan sangat ditentuntukan oleh klip seperti apa yang akan dibikin, hanya saja pasti ada alat utama yang harus ada terutama :
CAMERA dengan kelengkapan seperti tripod, dolly, dolly track, crane.
LIGHTING dengan kelengkapan stang, filter, dsb
4. MEMPERKUAT CREW
Pastikan anda bersama crew dan tim yang kompak dengan dipimpin seorang sutradara dalam pelaksanaan produksinya. Dalam penentuan crew tidak ada patokan berapa jumlahnya. Semuanya sangat tergantung dari produksi itu sendiri seberapa banyak ia membutuhkan tenaga.
5. PENGAMBILAN GAMBARSetiap gambar yang diambil tentunya berdasarkan story board yang telah dibuat. Shot-shot untuk video klip sebenarnya tidak ada aturan khusus secara teknis tetapi dalam instruksi dan istilah-istilah yang dipakai tetap menggunakan aturan secara umum. Misal : Close Up, Medium shot, Cut, Cue, Running, dsb. Hal ini tentunya adalah untuk memudahkan dalam hal pelaksanaan teknis saat pra produksi, produksi dan editing.
6. EDITING
Pada era yang serba digital ini, editing mempunyai peranan yang cukup penting dalam proses akhir produksi sebuah video klip. Bahkan editing juga dapat mengatasi segala keterbatasan alat pada saat produksi untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan story board.
Namun dengan hebatnya teknologi editing yang ada, sebagai seorang video klipper tetap dituntut harus mampu memperoleh produksi semaksimal mungkin tanpa tergantung dari editing.
Selamat berkarya…
FEATURE
Feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Menjadi seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam memandang dan menghayati suatu peristiwa. Serta mampu menonjolkan suatu hal yang meski umum namun belum terungkap seutuhnya yaitu sisi humanisme.
BERDASARKAN TIPENYA FEATURE DAPAT DIBEDAKAN MENJADI
1. Feature Human Interest
Langsung menyentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan, simpati). Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, lika-liku kehidupan seorang guru atau dokter di daerah terpencil, atau kisah seorang menimbulkan kejengkelan (Contoh tayangannya : Program kejamnya Dunia, Investigasi, Jendela, Delik, derap Hukum, dll).
2. Feature Pribadi-Pribadi Menarik Atau Feature Biografi
Misalnya riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi atau seorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi (Contoh tayangannya : Program Silet, dll).
3. Feature Perjalanan
Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektifitas menonjol, karena biasanya penulisannya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “Aku”, “Saya”, atau “Kami” (sudut pandang ‘Point Of View’ orang pertama) (Contoh tayangannya : Program Menantang batas, Koper & Ransel, dll).
4. Feature Sejarah
Yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan, dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini. (Contoh tayangannya : Program Silet, Program Khusus, dll).
5. Feature Petunjuk Praktis (TIPS)Yaitu mengajar keahlian, how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, dan sebagainya (contoh tayangan : Program Sisi Lain, Good Morning, dll).
STRUKTUR TULISAN
Menulis Feature tidak ada aturan khusus. Namun demikian, dalam menulis feature, usahakan apa yang ditulis itu tidak monoton. Data yang diungkapkan kuat, detail, fakta, harus ada dan benar. Sebenarnya menulis feature lebih tergantung pada kekuatan menulis atau ketrampilan menulis.
JENIS-JENIS FEATURE
Adapun jenis-jenis feature di antaranya :
1. Feature Berita
Yang lebih banyak mengandung unsur berita berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian khalayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah straight news. (Contoh tayangan : Program Investigasi, Delik, Sigi 30 menit, dll).
2. Feature Artikel
Yang lebih cenderung segi sastra. Biasanya dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau berkurangnya aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan atau kejadian, seseorang suatu hal, suatu pemikiran, tentang ilmu pengetahuan, dan lain-lain yang dikemukakan sebagai laporan (informasi) yang dikemas secara ringan dan menghibur. (contoh tayangan : Program Jakarta Underground (atmosphere) Jejak Malam, Fenomena dll).
Sumber: http://www.freewebs.com
Kangen
Jakarta, 15 Desember 2008 pukul 01.10 wib waktu kantor temen gw yang selalu terus dengan koneksi internetnya…..
Lagi otak - atik frienster dan liat imel di internet, tiba - tiba mp3 gw mati yang belum lama gw nyalain, gw coba puter dan cari lagu - lagu yang enak. gw coba klik lagu ‘tombo ati‘, tapi ngga tau kenapa reaksi batin langsung berdetak dan bergejolak. Tiba - tiba…tanpa sadar air peluh mengalir ke pipi.Itu semakin membuat gw menghayati perasaan ini. perasaan ini tertuju pada adik - adik gw. ngga tau kenapa tiba - tiba kepikiran pada mereka.
Kangen sama adik - adik gw….itu yang terbenak pada jiwa yang sedang bergejolak ini. Lagu yang terdengar di telinga semakin memperparah perasaan gw ini. Gw berharap semoga saja mereka di lindungi oleh Alloh SWT dan tidak terjadi sesuatu apapun, amin
Polisi Yang Baik Hati
Mumpung ada internet gratis, gue langsung manfaatin waktu buat nulis di blog yang sekian lama ngga pernah gue jamah…. walaupun mata udah ngantuk kaya apaan tau, halah apa coba..!!!
Sekarang tepat pukul 03.00 dini hari waktu setempat tanggal 13 Desember 2008. Apakah gerangan yang terjadi?
Yah…sedikit curhat nie, gue belum lama kecelakaan…kira - kira udah satu minggu gue ngga masuk kantor ditambah ngga masuk kampus pula. Kecelakaan gue itu terjadi di Parung Bogor sehabis bantu temen ambil gambar (udah kaya kameramen handal…) buat tugas kampus, singkatnya setelah kita semua puas ambi gambar, tiba - tiba gue dihajar motor dari arah berlawanan, alhasil gue jatuh deh, hasilnya kaki gue RETAK.
Kurang lebih seminggu gue istirahat dan itu semua buat gue BT ngga karuan, bagaimana ngga, cuma makan tidur mulu ngga pernah ada kegiatan yang gue kerjain, yah…kata orang dan sodara sih mumpung lagi sakit, dimanjain dikit.
Seminggu semua gue lalui, sampai pada akhirnya dini hari, sebenarnya gue ngga boleh kemana - mana dulu, maklumlah kaki perlu istirahat total. Tapi dasar emang gue bandel, gue coba jalan - jalan keluar rumah sampai bawa motor sendiri buat keliling2 jalan, hasilnya kaki gue bengkak dan nyeri ngga ketulungan, tapi ya sudahlah itu resiko gue hehe….
Singkat cerita gue dapet kabar bahwa nyokap gue datang ke jakarta, tapi posisi nyokap di Cakung. Saat itu kira - kira pukul 23.20 wib, gue langsung meluncur tanpa pikir panjang lagi dengan kondisi kaki gue. Saat itu memang kebetulan adik gue juga udah dapat informasi tentang nyokap, alhasil kita sama - sama meluncur ke sana.
Ketemu nyokap rasanya kangen banget, akhirnya kita semua terlibat diskusi yang panjang. rencana akan menginap di sana tapi gue urungkan karena kebetulan gue ngga betah dengan kondisi nyamuk yang parah banget. ya kurang lebih kita ngobrol ngalur ngidul sekitar 2 jam, diskusipun berakhir. Dengan mata yang udah mulai loyo, gue, adik, dan pacar adik gue yang mengantar langsung meluncur ke arah rumah. Di perjalanan gue bilang pada pacar adik gue bahwa gue akan nginep di kator dia, hehe…kantor dah kaya kos - kosan.
Motor langsung gue tancap di dinginnya pagi. kecepatan rata - rata 80 - 90 km / jam, motor terus gue tancap. Dalam benak gue, “ini baru namanya sirkuit”. Terang aja jalanan kosong pad saat itu. Ngga lama lewatin ITC CEMPAKA MAS, dari kejauhan gue liat ada mobil polisi beserta para anggota yang sedang merazia, ternyata benar filling gue ngga salah, “kena razia juga deh” pikir gue.
Saat itu gue tau dengan kesalahan yang gue punya, pajak motor mati ditambah masuk jalur cepat, “apes nie gue”. Setelah surat - surat kendaraan diminta, gue langsung dibawa tempat yang agak sepi persis di depan mobil dinas polisi yang di parkir. Gue tau maksud polisi itu, ngga jauh dari duit.
“Anda tau dengan kesalahan anda” tanya polisi tadi.
“Saya tahu sekali pak, pajak saya mati, tapi tolonglah saya baru pulang liputan”
“Boleh liat buktinya bahwa anda pers” balas dia.
“Oh..tentu pak” jawabku
Campur aduk pikiran gue saat itu, “saat ini gue kena batunya lagi nie”
“lain kali anda hati2 ya bila mengendarai motor dan patuhi rambu lalu lintas di jalan” Perintah Polisi tadi sambil memberikan surat2 kendaraan gue.
Saat itu, gue ngga pernah nyangka kalo gue bakalan lolos dari operasi tadi, biasanya kalo ada operasi pasti gue kena tilang, tapi untuk kali ini polisi ini memang benar - benar baik hati, gue lolos…….
Bangga?, pastinya….hanya dengan bermodalkan kartu pers kampus, gue bisa lolos dari razia tadi…………………………
Saat itu gue berpikiran bahwa saat itu beruntung aja.
Setelah semua terlewati, gue langsung menuju kantor PH temen gue, dan langsung menuju komputer yang terkoneksi dengan internet, tanpa buang waktu otak - atik keyboard hehe….
Aku dan Tetangga
Sebuah keluarga yang baru saja membeli rumah baru. Keluarga tersebut yang terdiri dari suami istri dan satu anak, belum lama menikmati rumah barunya itu setelah sekian lama ‘ngontrak’. Akan tetapi belum lama menempati rumah barunya itu, keluarga tersebut diganggu oleh ulah tetangga yang sering berkaraoke yang tidak kenal waktu. Bagi Budi ( suami ) lantunan lagu yang dinyanyikan oleh tetangga itu tidak mengganggu dirinya bahkan lagu – lagu yang dinyanyikan mengingatkan dirinya pada sang ayah , akan tetapi bagi Sandra (istri) lantunan lagu yang sering dinyanyikan oleh tetangga itu sangat menggangu apalagi bila lantunan lagu tersebut dinyanyikan pada malam hari.
Setelah warga sekitar memberi peringatan kepada tetangga tersebut, tidak lama tetangga itu pergi tanpa sepatah katapun dalam kepergiannya. Bagi Sandra kepergiannya membuat dirinya puas karena gangguan berisik tidak akan terjadi lagi, lain hal dengan Budi, dia merasa kehilangan tetangga tersebut apalagi teringat dengan lantunan lagu yang sering didendangkan.
Tak berapa lama tetangga tersebut pergi, barang – barang milik warga hilang. Budi jadi bingung dengan hilangnya barang – barang milik warga tersebut. Budi sendiri dan warga berasumsi aneh setelah kepergian tetangga yang belum lama pergi itu.
NB: Script bisa dilihat dipostingan SKENARIO FILM
Aku dan Tetangga
EXT. KAWASAN KOMPLEK PAGI
SUARA MUSIK
OPENING TITLE dimulai
Di pagi hari yang cerah. Matahari yang mulai menampakan cahayanya menyinari kawasan kompleks tersebut. Tampak hilir mudik Bapak – Ibu maupun anak – anak yang sedang asyik jogging. Ada juga di salah satu sudut rumah tampak seorang sopir sedang membersihkan mobilnya. Tampak juga salah satu rumah yang baru dihuni. Yang masih serba baru. Cat yang masih cerah serta tampak depan rumah yang tertata rapi.
Lalu…dari dalam rumah tersebut, pria dengan nama Budi berbicara sendiri dengan bangga.
BUDI
(O.S)
Hemm..ini merupakan hari kedua aku dan keluarga menempati rumahku sendiri. Kebanggaan sekaligus ketenangan mengalir dalam jiwaku…aku bisa mewujudkan keinginanku mempunyai rumah yang layak huni, ada halaman, ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi juga sedikit taman di bagian belakang.
OPENING TITLE berakhir
INT. RUMAH BUDI, KAMAR PAGI
Di dalam kamar yang masih serba berantakan, bantal guling yang masih dirangkul Budi, Budi masih tampak bermalas – malasan untuk bangun dari tempat tidurnya. Muka yang kucel serta rambut yang berantakan dan juga tampak kaos putih, celana pendeknya masih dikenakannya. Dengan tersenyum ringan sambil bermalas – malasan di springbed Budi memerhatikan dengan tajam ke arah akuarium kecil yang tepat ditaruh didekat meja kecilnya.
Lalu… Budi berkata dalam hati.
BUDI
(V.O)
Tidak seperti rumah kontrakan yang aku huni dulu sebelumnya…tak ada pembagian ruangan yang jelas. Untuk membedakan ruang tidur dengan kamar tidur, aku dan istriku memisahnya dengan lemari pakaian. Kamar tidur tak ada pintu. Jika ada tamu, mata mereka akan segera tertancap ke tempat tidur kami, Aku sering malu sendiri menyikapi hal seperti ini. Sering…saat melihat istri dan anakku terlelap, aku merasa berdosa membiarkan mereka tinggal di tempat seperti itu…
Budi tampak tersenyum mengingat semua itu. Budi memandangi langit – langit kamarnya, meskipun kamar tersebut hanya berukuran tiga kai tiga meter.
Tiba – tiba pintu terbuka dan…
SANDRA
Segera mandi ya Sayang….
Sandra yang muncul dari luar kamar langsung memerintah Budi suaminya untuk segera mandi. Budi mengikuti perintah Sandra. Sambil menguap Budi langsung beranjak dari tempat tidurnya. Setelah itu Sandra keluar dari kamar itu.
Tapi…tiba – tiba Budi terdiam dan merebahkan tubuhnya lagi ke tempat tidurnya seraya berkata dalam hati.
BUDI
(V.O)
Hemm… masih ada dua hari untuk menghabiskan sisa cuti kantor, tidak ada salahnya memanjakan diri dengan berlama – lama di kamar tidur….
Tak berapa lama merebahkan tubuhnya, tiba – tiba terdengar seseorang dengan nada khas wanitanya, melantunkan beberapa bait lagu. Budi tertegun dengan lagu itu dan mendengarkan dengan seksama.
SUARA WANITA
(O.S)
Kau masih gadis atau sudah janda……
Suara itu persis dari sebuah rumah di depan rumah Budi. Budi bertanya – tanya, siapakah perempuan itu, apakah ia pemilik rumah itu. Budi terdiam dan menikmati karaoke itu.Setelah selesai satu lagu, perempuan itu melanjutkan lagu berikutnya. Kali ini lagu yang pernah didendangkan oleh Elia Kadam.
Mendengar lagu itu, Budi teringat sang Ayah di kampung.
Lalu berkata dalam hati.
Sang Hawa
Sekerumunan anak manusia
Berkumpul disuatu wadah
Dengan tujuan yang sama
Walau beragam status
Bukanlah suatu penghalang
Dengan canda tawa
Begitu Riangnya mereka
Tapi diantara hiruk pikuknya suasana
Seorang hawa terdiam menyendiri
Seolah terlempar dari kerumunan
Aku terfokus olehnya
Begitu tajamnya aku membidik
Fokus…fokus…dan fokus
Aku coba menghinggapinya
Tapi tubuhku tak kuasa
Tertahan oleh perasaan
Perasaan yang tertuju olehnya
Dimana manusia tidak bisa melihat perasaan itu
Tapi aku yakin perasaan ini pasti terkuak
Entah kapan dan di mana
Dengan harapan
Bisa menghinggapi sang hawa
Sesuai bidikanku
Untuk menyambung perasaan ini
Merpati Putih
Aku terdiam di sudut sebuah ruangan
Gemuruhnya manusia
Telah merasuk ke dalam pikiranku
Ahh..tapi masa bodoh pikirku
Ku coba ganti suasana
Dengan sedikit sesak
Ku hirup udara yang kotor
Tapi…itu kewajiban yang harus ku laksanakan
Ku lihat merpati putih
Begitu indah hiasannya
Bak anak panah yang siap diluncurkan
Bola mataku tertuju padanya
Tapi…merpati putih itu terbang
Entah kemana perginya
Jauh meninggalkanku
Dengan fikiran maya
Beradu argument dengan hati kecil
Ingin rasanya aku memelihara dan merawat
Merpati putih yang ku damba
Curhat Ahh..
Mulai hari ini aku disibukan dengan tugas - tugas kampus yang mendera, hampir semua mata kuliah semester ini bersifat praktek, belum lagi biaya-biaya praktek diluar dugaaku, yang jelas berbeda dari semester sebelumnya. Menurut aku, kali ini adalah awal dari menjadi Broadcaster yang sesungguhnya, dengan latar belakang banyak tugas praktek menumpuk yang diberikan oleh Dosen. ya sejujurnya aku sebagai mahasiswa sekaligus sebagai pekerja, ini semua cukup membebani. tapi itu semua tidak berarti aku harus mundur, ohh…tidak.
Andai saja aku adalah golongan anak orang berada, mungkin aku bisa fokus dengan kuliahku ini dan tidak mempunyai pemikiran yang bercabang, maksudnya mikir kerja, mikir kuliah pula. Belum lagi bila ada jadwal praktek di jam sibuk alias pas masuk kantor.
Disini aku hanya bisa merenung bahwa tanpa bekerja tidak mungkin aku bisa kuliah karena semua kuliah itu perlu biaya. Cukup dimengerti memang, jurusan yang aku ambil memang tidak sejurus dengan pekerjaanku sekarang ini, yang artinya untuk menjadi seorang Broadcaster tidak seperti orang pekerja kantoran yang bisa dikatakan masuk pagi pulang sore, tapi dibidang Broadcasting urusan waktu adalah bukan hal yang baku seperti kerja kantoran, simplenya ngga kenal waktu. Tapi dengan jiwa optimis itu semua tidak membuat aku surut, maju terus pantang maju mundur.
Dukun Oh Dukun…
“Ris, aku pulang duluan ya,” tegur Tina.
“Oke sampai ketemu besok dan jangan lupa nanti malam loe belajar buat besok ujian.” perintah Risti sok merintah. Selepas selesai belajar mereka berenam keluar dari sekolah pukul satu siang.
Seperti biasa mereka langsung menuju ke rumah masing – masing terkecuali Tina dan Risti. Risti memang sengaja menemani Tina pulang karena memang kebetulan searah menuju terminal. Tina bertempat tinggal lebih jauh dari pada teman satu gengnya. Jarak dari sekolah dan rumah Tina memang sangat jauh yang bisa dperkirakan kurang lebih 30 km, wow kebayang dong kalo dari rumah itu jam berapa jika pagi – pagi berangkat ke Sekolah padahal masuk Sekolah pukul tujuh pagi, tapi itu semua tidak membuat surut seorang Tina untuk berhenti atau kandas ke Sekolah.
Mereka bersahabat sejak pertama kali masuk di SMK PGRI Kebumen dengan membentuk sebuah geng yang dinamakan geng B2. Tanpa terasa tiga tahun mereka bersahabat, harus mengikuti ujian akhir yang merupakan itu sebagai tanda dari mulai berakhirnya mereka kumpul bareng di sekolah, tapi jika semua mereka lulus. Yang jelas saat ini mereka harus siap dengan ujian akhir sebagai final belajar yang ditekuni selama tiga tahun mengenyam.
***
Pagi – pagi sekali seperti biasa Tina bangun sangat awal karena dia tahu bahwa hari ini merupakan hari yang harus dipersiapkan untuk menempuh ujian dan tidak terkecuali sahabat satu gengnya di sekolah.
“Tin, kamu dimana sekarang?” tiba – tiba hpnya bunyi setelah dilihat dari Jue.
“Aku masih di angkot nie bentar lagi udah mo nyampe kok dan kalian tunggu di tempat biasa ya agar kita masuk bareng – bareng ke kelas,” jawab Tina.
“Oke Tin!!!”
Tak berapa lama Tina datang dan menghampiri geng B2 di tempat biasa mereka nongkrong.
“Ayo semua udah siap kan?” tanya Tina setiba turun dari angkot. Dengan serentak mereka menjawab.
“Siap !!!”
Mereka bergegas menuju Kelas dan mempersiapkan semua alat – alat tulis yang akan digunakan serta sambil mengacungkan jempol Tina memberikan aba – aba bahwa pertarungan untuk berlomba mendapatkan nilai terbaik dan tertinggi di antara mereka berenam siap dimulai.
Tak lama lonceng Sekolah pun berdering keras dan itu pertanda semua ujian siap dimulai. Mereka berenam saling memandang dengan wajah kompetisi yang sehat. Dengan sikap yang sigap dan tenang mereka siap mengerjakan soal – soal dengan seksama.
“Awas di kelas ini dilarang keras untuk mencontek dan apabila Bu guru menemukan diantara kalian ada yang ketahuan mencontek, Ibu tidak akan segan – segan untuk mengeluarkan dari kelas ini dan tidak akan Ibu izinkan untuk ikut ujian, mengerti anak – anak,” hardik Bu guru disela – sela memberikan pantauan kepada siwanya.
“Mengerti Ibu,” jawab sekelas serentak.
Dua puluh menit mereka mengerjakan soal dengan wajah tegang dan stress, tidak terkecuali Risti yang dengan santainya mengerjakan soal dengan penuh senyum serta anti menyontek. Secara tidak sengaja Tina menoleh kearah Risti, terang aja Tina bingung melihat tingkah laku Risti yang notabenennya Risti di geng B2 merupakan anak yang paling tulalit diantara mereka, bahkan bila ada soal ujian apapun Risti selalu mencari bahan contekan, akan tetapi saat ini Risti sangat berbeda tidak seperti biasanya dan sungguh aneh. Tina yang duduk persis disampingnya melihatnya jadi makin aneh.
“Ris, jawaban nomor 15 apa?” tanya Tina pura – pura ngga tau dengan nada bisik – bisik.
“Sorry Tin, aku pantangan untuk soal ini!”
“Hah…ga salah nie gue denger, loe kan masuk ke dalam geng B2, tapi kenapa loe sekarang ngga mau kasih jawaban, apa mentang – mentang ujian Akhir nie?!”
Risti dengan santai menjawab. “Tin, sorry saat ini gue belum bisa katakan hal ini ke loe.”
Kontan aja Tina tambah bingung dengan kelakuannya.
Sampai saatnya lonceng Sekolah pun berdering dan pertanda ujian telah usai untuk sesi pertama. Para siswa berhamburan keluar kelas dan masing – masing diantara mereka terlihat muka lega setelah mengikuti ujian sesi satu telah dilewati.
“Heh…kalian liat Risti ngga?” tanya Tina.
Risti….? kita ngga liat, dan lagian loe tumben Tin biasanya loe kalo ujian begini sibuk dengan bahan pelajaran loe sampai kita – kita loe cuekin…” jawab geng B2.
“Ah..loe bisa aja, tapi ini serius.”
“Ok sekarang kita cari Risti dan kita yakin dia ngga jauh dari sini kok,” jawab Eri.
Mereka berlima mencari Risti tapi dia tidak bisa diketemukan bak buron aja. Berhubung waktu sudah makin sempit karena jam ujian sesi berikutnya sudah hampir dimulai. Mereka langsung belajar dan soal Risti mereka cuekin sementara waktu.
Lima menit mereka belajar dan harus masuk kelas kembali untuk menempuh ujian kembal sesi dua. Begitu mereka masuk kelas betapa anehnya Risti sudah ada di kelas lebih awal. Tina dan kawan – kawan heran. Read the rest of this entry »
Minal Aidin Walfaidzin Mohon Maaf lahir dan Batin
Dengan lewatnya bulan suci ramadhan dimana kita semua menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, kini saatnyalah kita sama - sama rayakan hari kemenangan yang pastinya kita nantikan. Untuk itu saya mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga dengan datangnya idul fitri 1429 H ini, segala semua kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, dihapuskan dosa - dosa kita oleh Alloh SWT, amin.
bagi yang menginginkan gambar ini, silahkan ambil dan sampaikan kepada sahabat Blogger yang menginginkannya. ( gambar diambil dari blog www.rayandimas.blogspot.com)
![]()






11 September
Aku baru sempet nulis saat ini, kebetulan kemarin gue sok menyibukan diri, jadinya baru sempet nulis deh.
Pagi – pagi banget gue udah dibangunin sama temen gue, Ali. Dia memang langganan gue bangunin setiap sahur, maklumlah gue orang yang selalu kesiangan. Gue langsung ke kamar mandi dan ambil air satu gayung dan langsung cuci muka. Habis itu gue langsung keluar buat beli makanan sahur, maklumlah gue anak kos yang ngga pernah masak, jadi apapun serba beli.
Satu bungkus nasi plus pisang ambon buat cuci mulut dalam waktu 15 menit habis seketika dan seperti biasa sebelum adzan Subuh, gue nonton tayangan televisi yang lagi seru dengan acara yang disuguhkannya. Ngga lama adzan Subuh berkumandang dan gue langsung ambil air wudhu trus sholat subuh. Hawa setengah lima pagi itu membuat gue bingung mau ngapain, dari pada ngga ada kerjaan, gue langsung bobo, lumayan satu jam setengah buat bobo.
Baru aja gue mau memejamkan mata, hp gue bunyi dan langsung gue matiin yang ternyata reminder. Dengan mata yang masih merah gue lihat samar – samar di layar LCD hp yang aku taruh persisi di samping gue, terlihat ada inbok yang masuk. Gue buka dan ternyata isinya kaya gini.
“Kejadian WTC pada 11 September 2001 silam merupakan kejadian yang paling mengerikan dan dunia juga tau kalau kejadian itu karena ulah para teroris dan mungkin loe tau berapa korban yang berjatuhan, sampai – sampai tragedi ini di filmkan sampai dua bab, kalo loe nonton filmnya di bioskop pasti tau. Dari situ pihak keamanan USA tidak henti – hentinya mencari gembong dibalik ini semua, tapi bukan karena gue sms seperti ini ngomong yang ngga jelas atau sok tau mengenai tragedi WTC di Pentagon itu, tapi asal loe tau kalo kita ambil tanggalnya aja yaitu 11 September, berarti itu tragedi apa sahabatku?,…………………………………………………………………………………………………….ya betul tanggal 11 September adalah dimana seorang anak manusia yang dilahirkan pada 24 tahun silam dan tidak terasa anak itu sudah beranjak dewasa dan saatnyalah anak tersebut merenungkan umurnya yang semakin hari semakin berkurang. Sebenarnya gue cape sih ngetik panjang lebar di hp, tapi demi sahabat gue, seneng rasanya gue bisa ngingetin loe bahwa saat ini sahabat gue lagi berulang tahun. Met ulang tahun ya sahabatku, semoga dengan bertambahnya usia loe, gue harap loe semakin dewasa dengan kehidupan apa yang loe jalanin saat ini.”
gila gue sampe lupa sama ulang tahun gue sendiri dan sejujur – jujurnya gue lupa banget kalo hari ini hari gue. Tanpa pikir panjang lagi, gue langsung reply tuh sms yang panjang lebar dengan ketikan yang sesingkat – singkatnya, maklumlah gue masih males banget buat ngetik sms yang panjang lebar.
Fajar pun meyingsing di pagi hari yang cerah, ngga lama gue langsung mandi dan berangkat ke kantor. Sampai di kantor seperti biasa gue langsung kerja. Saat itu ngerasa ngga ada yang special di hari ulang tahun gue, ngga seperti tahun lalu hampir satu kantor ngucapin ulang tahun ke gue, ah..tapi masa bodoh mungkin mereka lupa kali dengan ulang tahun gue dan lagian sapa coba yang mo ngingetin ulang tahun gue hehe…
Tepatnya selepas Duhur tiba – tiba gue terima sms dan gue lihat sms tersebut dari DO, ya Director operasional di kantor gue, orang kantor yang pertama kali ngucapin ulang tahun dan tanpa diduga ternyata sms bertubi – tubi datang ke nomor 32482472. Dan gue ngga nyangka orang kantor masih inget dengan tanggal kelahiran gue.
Juga ngga lupa pada temen – temen gue di luar kantor sana, baik temen kampus, komunitas, juga temen – temen lain yang ngga gue sebutin satu persatu, yang udah sms untuk ngucapin ultah ke gue.
Loe tau kan apa permintaan mereka semua?, orang kantor meminta traktir dari gue. Berhubung saat ini lagi bulan puasa, mereka minta traktir nanti pas berbuka puasa. Wah makin pusinglah gue ini, tapi setelah gue jelasin semua tentang keuangan gue, akhirnya mereka ngerti dengan kondisi gue saat ini, maklumlah gue abis bayar kuliah dan semua abis tuh gajian gue buat bayar kuliah, tapi gue bilang ke mereka nanti abis bulan akan gue traktir, mereka tertawa dengan kejujuran gue. Ngga enak sih gue katakan hal itu semua, tapi dari pada ngga bilang kaya gitu ntar gue sendiri yang susah.
Tapi ternyata punya temen yang selalu ngertiin memang enak ya, di saat pulang kantor, tiba – tiba nada sms masuk, dalam benak gue wah siapa lagi nie yang mau minta traktir. Ya seperti biasa ucapan ultah, tapi singkat, padat, dan merayap pula. Buru – buru langsung gue kantongin dan ngga gue replay tuh sms, soalnya pulsa udah kering kerontang. Tak berapa lama teleponpun masuk dan nama dia yang baru sms, angkat….ngga….angkat…..ngga…..angkat, ya gue angkat deh. Setelah ngomong panjang lebar, gue dapet kejutan, gue bakal dibeliin kado sesuai permintaan gue, siapa yang ngga mau coba. disaat gue dibombardir buat traktir anak – anak, ternyata masih ada yah yang mau traktir gue…..haha…..
Tapi ini semua bukannya gue manfaatin, tapi memang dia sejujurnya dan sudah direncanakan sebulan sebelumnya untuk traktir gue jikalau ultah gue tiba, itu menurut pengakuan dia. Hem…asyik sih.
Oke deh mungkin hanya itu aja yang bisa gue tulis, cape nie gue kepanjangan kata – kata:)Sekali lagi gue ucapkan terima kasih banyak kepada temen – temen yang udah ngucapin ultah gue, temen kantor, komunitas, temen kampus, serta temen – temen yang gue sempet lupa siapa aja yang udah ucapin kata – kata mutiaranya.
Sekolah Gratis
SEKOLAH GRATIS (TOLONG DISEBARKAN !!!)
Jika tidak berkeberatan forward di milis2 / blog di mana anda bergabung atau membuat. Kalau kenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi: Ibu Ade Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770 Telp. 021 799 0412 HP. 0856 9150 0258 Untuk selanjutnya akan disurvei. Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu
.. Best Regards,
Ade Andria Outreach
Sampoerna Foundation Sampoerna Strategic Square Tower A, 27th Floor Jl. Jendral Sudirman Kav. 45 Jakarta 12930, INDONESIA
Riset Film Dokumenter
Film dokumenter merupakan penemuan baru untuk mengatasi kegelisahan orang atas hilangnya pengalaman visual. Karena peristiwa berlalu dengan cepat maka orang sering membuat ikon atau tiruan dari kenangan tersebut, misalnya foto kekasih di dompet, meja, dsb.
Dalam kenyataannya selalu ada kesenjangan antar visual yang dibuat kamera dengan kondisi nyata. Sekarang menjadi bertambah kompleks, karena ada suara, warna, dll sehingga semakin tdak sesuai dengan realita. Kita melihat realita dengan sepotong-sepotong, misal melihat seseorang tdak bisa menyeluruh.
Dengan demikian imej visual sangat dibutuhkan . Foto dan film bisa membantu, tapi juga bisa mengganggu. Tampilan bisa melampaui kebutuhan kita. Kamera menampilkan apa yang tidak bisa kita tangkap. Mata biologis hanya melihat apa yg ingin kita lihat. Maka imej visual yang kemudian kita anggap sebagai dokumen -karena diperlakukan sebagai arsip dan disimpan sebagai data- melampui kebutuhan orang yang membuat film. Maka pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Apakah film dokumenter memenuhi kebutuhan obyektif suatu riset?
Bisa dikategorikan sebagai obyektif karena secara mekanik, digital dan sebagian chemic. Mata biologis pun mengambil obyek yang memang benar-benar kita butuhkan. Peristiwa ini kemudian diubah menjadi obyek penelitian. Penelitian itu sendiri tidak ada yang benar-benar obyektif. Lalu untuk apa riset ini?
Kalau hanya untuk kebutuhan filing system, maka penelitian hanya berhenti di lemari, tapi riset ini adalah riset transformasi. Riset perfilman menjadi bagian dari transformasi itu sendiri. Dari tayangan film orang dapat merefleksi dirinya sendiri sehingga ia dapat merubah dirinya sendiri. Jadi film bisa membentuk kenyataan. Ada dialektika antara film dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks besar orang menyebutnya sebagai proses mediasi, dari citra visual, menjadi mediasi untuk membentuk realita.
Untuk membuat film dibutuhkan riset yg reflektif, tentang polah obyek, isu-isu yang berkembang, dsb. Riset dalam Film Dokumenter dianggap penting dalam penciptaan film dokumenter. Di Indonesia sendiri, pendanaan untuk riset film-film dokumenter dinilai masih sangat kurang. Dalam proses produksi film dokumenter, riset yang efektif dilakukan selama dua bulan. Hal ini berhubungan dengan pengalaman Garin Nugroho saat bekerjasama dengan NHK Jepang.
Dalam analisis terhadap hasil riset, banyak orang menganalisanya tanpa tahu jenis dokumenter apa yang akan dibuatnya. Riset sendiri bersifat kompleks karena harus mampu mengorganisir manajemen teknik, ide, lokasi dan lain-lain.
Untuk itu tim riset yang dibentuk harus komprehensif, bisa memadukan sebuah bentuk organisasi yang struktural dengan organisasi yang non struktural. Hal ini bisa menciptakan ide-ide yang �gila� dan tidak terduga. Dalam riset lapangan juga diperlukan orang yang memang benar-benar paham lokasi shooting. Seorang sutradara tidak mencari periset yang dekat dengan dirinya tetapi seorang periset yang mengerti kondisi lokasi. Dengan kata lain, baik periset maupun tim produksi sepenuhnya mengabdi pada film yang akan diproduksi.
Kelemahan dari pencipta film adalah mencari tim periset dengan ego pribadi. Ambisi pencipta fim adalah ambisi terhadap fim itu sendiri. Misal untuk membuat film yang berhubungan dengan kehidupan anak jalanan dibutuhkan pendamping-pendamping anak jalanan yang benar-benar mengerti kehidupan mereka. Pendamping pun ternyata berbeda-beda. Ada pendamping yang mengerti masalah psikologi anak, masalah penampilan, dsb. Jadi langkah awal yang perlu diperhatikan dalam membentuk tim riset adalah mengerti benar kegunaan atau jenis film tersebut sehingga tim yang terbentuk adalah tim yang tahu kegunaan film tersebut. Seringkali yang terjadi di langkah awal pembentukan tim riset ini adalah seorang pencipta film lebih mengutamakan egoismenya sehingga film itu sendiri tidak lagi menjadi masalah yang penting.
Riset itu sendiri memiliki bidang kerja yang berbeda-beda. Untuk melakukan riset terhadap subjek dan wilayah memerlukan berbagai macam disiplin ilmu, sosial, politik, sosiologi, dll. Misalnya membuat film tentang Papua, pencipta film harus tahu dimana saja wilayah konflik, suku apa saja yang mendiami tempat tersebut, bagaimana hubungan antar suku atau penduduknya, dsb. Sedangkan untuk riset yang berhubungan dengan administratif kerja harus tahu tempat-tempat yang dibutuhkan untuk mendukung tim kerja, misalnya jadwal buka POM Bensin, informasi tentang hotel, jarak dan waktu, transportasi, dsb. Tim periset juga harus bisa bekerjasama dengan kru-kru lokal yang mengerti persis keadaan lokasi, misal saat shooting di Aceh akan lebih baik merengkrut sopir yang tahu atau kenal dengan GAM sehingga memudahkan transportasi, dsb. Saat melakukan pembuatan film di daerah-daerah konflik, mutlak dibutuhkan regu pengaman, aparat desa, ketua agama. dll. Di daerah konflik juga dibutuhkan kemampuan berdiplomasi.
Riset tentang SDM dan hal-hal lain mutlak penting bahkan untuk hal-hal sekecil apapun sehingga tidak ada pertanyan-pertanyaan yang menghambat kelancaran pembuatan film.
Pembuat film harus tahu SDM yang terlibat secara personal. Ia juga mengetahui dan mengerti kelemahan dan kelebihan setiap anggota tim, bila perlu tes langsung. Hal yang harus diperhatikan juga pada riset SDM adalah watak tiap kru sehingga dapat saling melengkapi. Fokus dan pengembangan ide film akan lebih mudah apabila masalah-masalah teknis di sekitar lokasi shooting telah teratasi dengan baik.
Dari segi teknis kamera, riset yang baik bisa sekaligus memenuhi kebutuhan dalam pengambilan-pengambilan gambar. Periset yang baik juga harus memperhatikan bagaimana posisi atau penempatan kamera yang baik , semisal pembuat film menginginkan gambar yang dramatis di pagi hari. Posisi kamera sudah mengerti tempat atau angle yang baik untuk men-shoot matahari, bagaimana komposisi yang baik, dari segi suara dan sebagainya sehingga hasil gambar sesuai dengan yang diinginkan. Terkadang periset juga harus membuat peta wilayah tersebut sampai pada tingkat bagaimana curah hujan (kemungkinan longsor, misal), dan sebagainya.
Riset juga berhubungan dengan tema film. Riset tema film berhubungan dengan penguasaan pada wacana yang menyangkut disiplin ilmu dan kebutuhan mendiskripsikannya ke bentuk visual. Periset harus tahu alasan suatu wacana, dan dapat menuangkan ke dalam bentuk visual. Pendampingan kepustakaan dan ahli lokal juga penting dan harus dilakukan.
Seluruh point-point riset ini dikumpulkan dan dibuat point-point detail, dari jenis huruf, peta daerah, hingga pemotretan secara detail. Bila unsur-unsur periset terpenuhi, sutradara atau filmaker akan enak sekali dalam pembuatan film lebih lanjut. Segalanya bisa dilakukan dengan cepat, tepat dan pasti.
Metode riset yang akan digunakan berkaitan dengan pengembangan ide. Seringkali para pembuat film tidak tahu harus berangkat darimana saat akan menentukan tema film yang akan diangkat. Oleh karena itu dilakukan klasifikasi terhadap subyek, misal tentang Kalimantan. Kalimantan bisa dikategorikan menjadi hutan, sungai atau faktor-faktor sosial lainnya. Kemudian menentukan keterkaitan antara klasifikasi tersebut dengan kehidupan sosial, seni, dll yang diperinci lagi, misalnya jenis perahu yang digunakan, hewan-hewan yang ada di sekitarnya, dsb sehingga tema bisa berkembang dari temuan-temuan seperti itu.
(Dikutip dari berbagai sumber)
Istilah dalam Produksi Film
Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan
Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan
Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka
Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.
Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.
Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.
Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.
Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.
Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.
Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia
Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar
Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi
Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya
Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle :
Sudut pengambilan gambar
Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi
Audio Effect :
Efek suara
Ambience :
Suara natural dari obyek gambar
Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran
Background :
Latar belakang
Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.
Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.
Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.
Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.
Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.
Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.
Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.
Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.
Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.
Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.
Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.
Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.
Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya
Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek
Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara
Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan
Bumper Out :
Penanda bahwa program acara tv akan berhenti sejenak untuk iklan
Call :
Waktu yang diharapkan dari seorang individu anggota staf perusahaan, pemain, atau kru untuk berada di set. Jadwal biasanya didaftarkan pada call sheet yang menjadi tanggung jawab asisten sutradara dan manajer produksi.
Camera :
Sistem perangkat mekanik atau elektronik yang mengontrol pergerakan dari film yang belum diekspos di belakang lensa dan shutter dan yang menentukan gambar serta tingkatan cahaya yang masuk kedalam film. Mekanisme ini mungkin memiliki kontrol kecepatan.
Camera Boom :
Tempat kamera yang dapat berpindah, biasanya berukuran besar, tempat kamera dapat diproyeksikan keluar set dan atau dinaikan di atasnya.
Camera Departement :
Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :
- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.
- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.
- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)
- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.
Camera Noise :
Bunyi Kamera. panggilan dari bagian tata suara (Sound Departement) di set untuk mereangkan bahwa ia menerima bunyi dari kamera sehingga harus digunakan kamera lain, melakukan perbaikan kamera atau diperlukan penghalusan tambahan terhadap kamera dengan menggunakan barney atau selimut.
Camera Report :
Salinan yang disimpan dalam tiap magazine film tempat asisten kameramen mencatat panjang pengambilan tiap adegan, nomer adegan, dan perintah untuk mencetak atau tidak. Laporan kamera diberikan ke laboratorium proses, bagian kamera, dan bagian produksi.
“Camera Right”, “Camera Left” :
Petunjuk bagi seorang aktor/aktris untuk berputar atau bergerak. Petunjuk ini berdasarkan sudut pandang sutradara atau kamera dan dibalik sesuai dengan keadaan aktor. Ketika menghadap lensa maka bagian kanan aktor adalah bagian kiri kamera dan juga sebaliknya.
Camera Tracks :
Lintasan Kamera yang terbuat dari metal atau lembaran kayu lapis ukuran 4 x 8 yang diletakkan dilantai untuk membawa dolly atau camera boom. Lintasan digunakan untuk menjamin kehalusan gerakan kamera.
Can :
Tempat/wadah untuk film.
Canned Music :
Musik yang belum ditulis untuk film tertentu namun telah direkam dan dikatalogkan menurut gayanya dalam perpustakaan sehingga dapat dibeli dan dipergunakan.
Casting Director :
Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.
Century Stand :
Digunakan untuk menahan berbagai jenis bendera yang diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya atau untuk menghalangi sejumlah cahaya tertentu. Juga digunakan untuk menahan atau mendukung ranting daun atau efek lain yang berhubungan dengan pencahayaan.
Changing Bag :
Tas kedap cahaya dengan ritsleting ganda tempat magazines film dapat diletakkan untuk memindahkan film yang telah diekspose dan mengisi ulang magazine. Juga dibuat sehingga memungkinkan asisten kamera memasukkan tangan dan lengannya tanpa membiarkan film terkena cahaya. Biasanya digunakan jauh dari studio kaerna di studio, magazine diisi ulang diruang gelap di bagian kamera.
Character Man or Woman :
Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.
Cinema :
Merujuk pada Motion Picture. Berasal dari kata Yunani Kinema yang berarti gambar.
Cinema Scope :
Nama dagang untuk tujuan pemrosesan fotografi dan proyeksi yang mengikutsertakan kamera dengan lensa anamorfik atau proyektor dan ayar berlekuk ekstra panjang. Memungkinkan proyeksi dari gambar yang jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Banyak film epic dibuat dalam Cinema Scope karena pengaruh dari ukuran terhadap penonton.
Cinematographer (Sinematografer) :
Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
Cinemobile :
Nama dagang untuk unit lokasi pembuatan film yang lengkap dan dapt berpindah-pindah, membawa peralatan dan petugasnya dan memiliki banyak ukuran mulai dari van peralatan kecil sampai dengan bus besar.
Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog ketika kamera gambar dan alat rekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “bang”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe sistem penanda elektronik dipasangkan sisi kamera.
Commercial :
Iklan. Film pendek yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk menjual suatu produk.
Composite Print :
Film yang telah diedit termasuk semua gambar, suara, dan musik yang telah dicetak ke dalam sebuah film.
Contact Glass :
Alat bantu penglihatan terbuat dari kaca berwarna gelap berbentuk seperti monacle yang dipakaikan ke salah satu mata Penata Fotografi selama pencahayaan set untuk memeriksa tingkatan kontras dari pencahayaan tersebut.
Cook, Cookie :
Dapat berupa kain dengan bingkai kawat atau lembaran kayu lapis atau plastik yang diberi pola daun ranting atau bunga untukmemunculkan bayangan pada permukaan datar. kadang buram atau tembus cahaya seperi sebuah scrim. berasal dari bahasa Yunani kukaloris yang berarti memecah cahaya.
Copter Mount :
Copter kamera untuk penggunaan dalam pengambilan gambar aerial helikopter yang berfungsi menjaga kamera dari vibrasi helikopter. Nama dagangnya adalah Tyler Mount.
Costume Designer :
Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.
Coverage :
Keseluruhan koleksi hasil pengambilan gambar individual, sudut, dan set yang terdiri dari segala kebutuhan film untuk membuat sebuah cerita lengkap.
Cover Set :
Set yang digunakan untuk syuting bila adegan eksterior yang diusahakan ternyata terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Cover Shot :
Bagian dari pengambilan film untuk menyediakan materi transisi dari satu bagian adegan ke bagian adegan lain dalam sebuah adegan yang sama. Bisa juga digunakan sebagai gamabr tambahan atau cadangan kalau perekaman pertama tidak berhasil. Juga disebut sebagai “insurance”.
Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.
Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara dan diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang aktor untuk memberi isyarat. Isyarat cahaya ini menghindari isyarat secara verbal yang dimunculkan oleh aktor.
Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun aktor/aktris tetap berada dalam posisinya. Sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau mengatur adegan lain yang saling bersinggungan.
Cut Back :
Mengubah gambar dalam film secara cepat dari adegan saat ini ke adegan lain yang telah dilihat sebelumnya. Pemotongan ini Dilakukan tanpa ada transisi.
Cutting on The Action :
Menggunakan sebuah tindakan besar dari seorang aktor/aktris sebagai titik untuk masuk lebih dekat atau lebih jauh dari orang tersebut.
Cutting Room :
Tempat peralatan seorang editor film berada, misalnya moviola dan lain sebagainya dan tempat film akan digabungkan sesuai cerita yang berkesinambungan. Ruang ini biasanya ada dalam sebuah studio namun dapat saja berada pada lokasi tersendiri dan terpisah dari daerah studio.
Cut to :
Secara cepat mengubah gambar dalam film dari adegan masa kini ke adegan lainnya tanpa adanya transisi.
Credit Title :
Urutan nama-nama tim produksi dan pendukung acara
Chroma Key :
Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara
gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam
prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai
kebutuhan foreground dan background
Cutting on Beat :
Teknik pemotongan gambar berdasarkan tempo
Clip Hanger :
Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin
tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena
ada jeda iklan komersial
Cut :
Pemotongan gambar
Cutting :
Proses pemotongan gambar
Camera Blocking :
Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Clear-Com :
Sebutan bagi penggunaan headset audio yang dihubungkan dengan
Master Control
Channel :
Saluran
Crazy Shot :
Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan
Composition :
Komposisi
Continuity :
Kesinambungan
Cross Blocking :
Penempatan posisi obyek secara silang sesuai dengan kebutuhan
Crane :
Alat khusus/katrol untuk kamera dan penata kamera yang dapat
bergerak keatas dan kebawah
Clip On :
Mikrofon khusus yang dipasang pada obyek tanpa terlihat
Casting :
Proses pemilihan pemain sesuai dengan karakter dan peran yang
akan diberikan
Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat
Dailies :
Hasil cetakan positif, dikirimkan setiap hari dari laboratorium berasal dari negatif film yang dipergunakan di hari sebelumnya.
Depth of Focus :
Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.
Dialogue Coach or Dialogue Director :
Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog saat pre-syuting.
Diffusers :
Potongan materi difusi diletakkan di depan lampu studio untuk memperhalus.
Director :
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.
Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.
Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.
Dollying :
Pergerakan kamera selama pengambilan gambar dengan menggunakan kendaraan/alat beroda yang mengakomodasikan kamera dan operator kamera. Kadang disebut juga tracking atau trucking.
Double :
Bisa diartikan pemain tambahan yang menggantikan aktor/aktris selama pengaturan cahaya atau dapat berarti stunt yang menggantikan aktor/aktris dalam adegan berbahaya.
Dress The Set :
Perintah untuk menempatkan banyak benda (misal lampu, asbak, bunga, atau lukisan) di set untuk memunculkan realitas.
Drift :
Ketika seorang aktor/aktris hampir tidak disadari bergerak keluar dari posisinya. Dapat juga berupa petunjuk untuk menghilang dengan suatu cara tertentu, dengan arti melakukan perlahan dan bertahap.
Dual Role :
Pemutaran lebih dari satu bagian peran seorang aktor/aktris dalam sebuah film yang sama.
Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat.
Dubbing biasanya diselesaikan dengan menggunakan Film Loops - bagian pendek dari sebuah gambar beserta dialognya dalam bentuk married print. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.
Dulling Spray :
Sebuah penyemprot aerosol yang menyisakan lapisan yang tidak mengkilat pada permukaan apapun dan tidak mengakibatkan penyilauan pada lensa kamera.
Durasi :
Waktu yang diberikan atau dijalankan
Dimmer :
Digunakan untuk mengontrol naik turunnya intensitas cahaya
Dissolve :
Teknik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera
Depth of Field :
Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera
muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh
jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop
Dramatic Emotion :
Emosi gambar secara dramatis
Editing :
Proses pemotongan gambar
Editor :
Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongan
gambar video dan audio.
Editorial Departement :
Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.
Electric Departement :
Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.
Electrician :
Orang yang bertanggung jawab terhadap penempatan dan penyesuaian cahaya serta menyediakan listrik sesuai kebutuhan tiap alat.
Exclusive Contract :
Kontrak yang menyatakan bahwa seseorang dapat bekerja hanya untuk orang atau perusahaan tertentu yang mengontraknya.
Exhibitor :
- Orang atau perusahaan yang memiliki bioskop atau drive-in atau rantai lain yang memungkinkan ditontonnya sebuah film.
- Teater atau drive-in yang mempertunjukkan sebuah film.
Exposed :
Bahan baku film yang telah dipakai untuk merekam gambar. Kata “exposed” wajib dicantumkan pada setiap can film yang telah dipakai.
Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.
Extra :
Orang yang dipekerjakan sebagai pemain latar, misalnya sebagai salah satu orang dalam kerumunan dalam adegan di jalan.
Engineering :
Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah
teknis penyiaran
Establish Shot :
Gambar yang natural dan wajar
Extreme Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat
Fade Out, Fade In :
Efek berupa gamabr yang perlahan hilang dan menjadi gelap (fade out) atau gambar yang muncul dari kegelapan (fade in). Digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.
False Move :
Gerakan yang tidak terencana oleh aktor/aktris sebelum melakukan gerakan yang telah direncanakan. False Move yang dilakukan aktor dapat memunculkan masalah dengan mengatur Dolly Grip untuk bergerak bersama dolly dan kamera karena ia berpikir bahwa gerakan aktor adalah isyarat untuk menggerakan kamera.
Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Juga menciptakan efek masa lalu dan film bisu.
Feature Part :
Peran yang tidak terlalu penting untuk seorang bintang, tapi cukup besar untuk memunculkan perhatian khusus. Biasanya dilakukan oleh aktor/aktris yang telah dikenal baik oleh penonton. Saat ini lebih dikenal dengan Cameo.
Fifty-fifty :
Biasanya sudut kamera atau pengambilan gamabr ketika dua orang aktor/aktris saling berhadapan, berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.
Fill Light :
Set pencahayaan umum yang digunakan untuk memperhalus kontras dari key lighting.
Film :
Media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasarnya. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita seperti 16mm dan 35mm.
Film Clip :
Bagian pendek dari sebuah film.
Film Loader :
Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose ke dalam can.
First Run :
Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan premiere.
Fishpole Boom :
Sebuah tiang ringan yang dapat digenggam dan dapat dipindahkan untuk digunakan meletakkan mikrofon di lokasi yang sulit selama pemfilman.
Flag :
Miniatur Gobo dari kayu lapis atau kain pada bingkai metal yang diletakkan pada century stand.
Flare :
Ketika suatu obyek atau cahaya dari set memantulkan cahaya yang tidak diinginkan scara langsung pada lensa.
Flashback :
Bagian dari cerita film yang mengisahkan waktu periode awal, tergantung dari cerita.
Flub :
Ketika aktor/aktris melakukan kesalahan dalam pengucapan dialog - flubbed his line
Fluid Head :
Landasan pada tripod kamera yang memberikan gerakan halus untuk kamera melalui penggunaan flywheel yang diletakkan dalam wadah berisi minyak dalam landasan itu sendiri.
Focus :
Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati
obyek aslinya
Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.
Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada aktor/aktris yang bergerak mendekati atau menjahui kamera. Biasanya menjadi tugas first assistant cameraman.
Follow Shots :
Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.
Final Editing :
Proses pemotongan gambar secara menyeluruh
Floor Director :
Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan
keinginan sutradara dari master control ke studio produksi
Footage :
Gambar-gambar yang tersedia dan dapat digunakan
Footage Counter :
Alat penghitung yang berada pada kamera untuk tetap dapat mengikuti jumlah film yang telah diekspose.
Four Walled Set :
Sebuah set yang memiliki 4 dinding bukan 3 seperti biasanya. Keempat dinding menutup area aksi secara sempurna namun mungkin dapat dipindahkan untuk memungkinkan pergerakan cahaya dan kamera selama melakukan pengambilan gambar.
Frame :
- Suatu gambar dari banyak gambar pada gulungan film yang telah diekspose, ukuran frame bervariasi sesuai format yang akan diambil gambarnya.
- Menyesuaikan kamera dan lensa sehingga gambar yang akan diambil memiliki batasan yang diinginkan.
Frame per Second (fps) :
Sebuah film 35mm berputar dalam kamera dengan kecepatan normal menghasilkan 24 frame perdetiknya sehingga bila banyak frame yang diputar tiap detiknya aksi dari subyek akan diperlambat ketika diproyeksikan dalam kecepatan normal. Bila lebih sedikit dari 24 frame yang diputar maka aksi tampat dipercepat bila diproyeksikan dengan kecepatan normal.
Freelancer :
Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.
Freeze :
Perintah bagi aktor/aktris untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.
Gaffer :
Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set.
Geared Head :
Unit dimana kamera dipasangkan yang dapat dihubungkan pada dolly atau crane dan panned (gerakan secara horisontal) atau tilted (gerakan secara vertikal) memungkinkan kamera untuk mengikuti gerakan.
Gen :
Truk generator yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik ketika unit film berada di lokasi atau tambahan penyediaan tenaga di studio. Juga disebut sebagai genset.
Gobo :
Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Green Departement :
Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.
Grip :
Orang yang berwenang memindahkan dan mengatur trek atau jalannya kamera - apapun yang membutuhkan cengkeraman yang kuat - di set.
Grip Chain :
Rantai ringan yang digunakan untuk berbagai keperluan yang dilakukan oleh bagian grip. pada set biasanya digunakan pada sekitar kaki kursi atau sofa yang ditempati pemain untuk mencegahnya bergerak.
Hairdresser :
Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.
Hairdresser Departement :
Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.
Hand Cue :
biasanya diberikan oleh sutradara atau asistennya untuk menunjukan waktu masuk seorang aktor/aktris atau bagian khusus dari suatu adegan.
Hand Held :
Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod
Headroom :
Ruangan bagian atas suatu obyek dalam gambar dengan bagian atas frame.
High Head :
Tripod logam kecil dengan ketinggian tertentu yang dapat dipasangkan ke lantai untuk mempertahankan posisinya. Digunakan untuk menahan kamera saat pengambilan gambar dengan sudut rendah.
Hot Set :
Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.
Hot Spot :
Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.
Hunting Location :
Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik
untuk syuting.
Idiot Cards :
Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.
Independent :
Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.
Insert Shot :
Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.
Int. :
Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.
Intercut :
Mengubah urutan tindakan dari belakang ke depan dari sebuah adegan ke adegan lain, biasanya dilakukan dengan kecepatan cukup tinggi.
Iris :
bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.
Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.
Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan
Jimmy Jib :
Katrol kamera otomatis yang digerakan dengan remote
Key Grip :
Orang yang memimpin para pekerja grip.
Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi subyek tertentu.
Lab :
Secara umum disebut sebagai suatu tempat untuk memproses exposed film pada tahap akhir.
Lens (Lensa) :
Konstruksi dari berbagai macam potongan kaca yang dipasang sesuai kebutuhan dan dimasukkan kedalam tube metal. Beberapa jenis lensa bersifat tetap dalam arti tidak dapat diubah-ubah panjangnya.
Light Meter :
Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.
Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.
Limbo :
Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.
Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seoarang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.
Location Departement :
Bertanggung jawab untuk mendapatkan lokasi khusus yang dibutuhkan untuk syuting film serta membuat penagturan agar seluruh kru dan peralatan dapat mencapai lokasi tersebut.
Long Focus Lens :
Istilah yang relatif digunakan untuk menggambarkan lensa yang lebih panjang dari ukuran fokus normal (telephoto) dan memberikan perbesaran image.
Looks :
Arah khusus yang diminta pada aktor/aktris untuk menagrahkan matanya dengan tujuan untuk menyesuaikan tindakan pada gambar sebelumnya. Bisa juga untuk mengindikasikan lokasi seseorang atau benda yang tidak ada dalam gambar, misalnya diluar kamera.
Long Shot :
Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara
pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.
Magazine :
Wadah film yang membentuk bagian dari suatu kamera atau proyektor. Magazine bersifat tahan cahaya serta tidak memungkinkan cahaya untuk masuk ke film yang belum atau sudah exposed didalam magazine.
Magnetic Recorder :
Alat perekam pita magnetik.
Make-Up Call :
Waktu untuk aktor/aktris berada pada bagian make-up atau ruang rias sebelum dimulainya syuting.
Make-Up Departement :
bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.
Mark It :
Perintah terhadap asisten kamera untuk melepaskan clapper stick pada slate board untuk memberikan tanda suara pada adegan ketika kamera sedang berjalan pada kecepatan fotografi.
Marks :
Digunakan untuk memberikan referensi pada aktor/aktris atau dolly mengenai posisi tertentu dalam suatu adegan. Tanda ini dapat dibuat ditanah atau lantai dengan menggunakan kapur, kertas perekat, tees atau segitiga dari kayu serta metal.
Married Print :
Gabungan antara track gambar dan suara setelah film tersebut selesai diedit. Istilah ini tidak dikenal dalam produksi dengan menggunakan format video.
Match :
Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.
Matching Directions :
Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.
Matte :
Sebuah cut-out atau penutup sebagian yang diletakkan didepan lensa untuk mencegah ekspose dari bagian film. Misalnya sepasang kembar identik sedang berbicara, padahal hanya satu aktor/aktris yang memerankan peran tersebut.
Matte Box :
Sebuah frame yang dipasang didepan lensa kamera dan didesain untuk menahan matte kamera yang digunakan pada suatu efek khusus. Matte Box biasanya dikombinasikan dengan sunshade.
Measuring Tape :
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.
Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)
Mock-Up :
Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.
Montage :
Urutan gambar yang mengalir, menyatu, atau kadang dipotong dari yang satu ke yang lainnya. Digunakan untuk memperlihatkan peningkatan atau pembalikan waktu terhadap perubahan lokasi.
M.O.S. :
Porsi gamabr dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.
Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.
Music Departement :
Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.
Master Control :
Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara
Medium Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak yang cukup dekat
Medium Shot :
Gambar diambil dari jarak dekat
Medium Long Shot :
Gambar diambil dari jarak yang panjang dan jauh
Middle Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak sedang
Master Shot :
Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan pada saat melakukan proses editing.
N.G. :
No Good (tidak baik) Istilah ini dipakai sebagai komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak baik pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action
NTSC (National Television Standards Committee)
Sistem warna televisi yang dipergunakan di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, NTSC terdiri dari 525 garis pemindaian yang berada pada rate 30 frame perdetiknya.
Non-Exclusive Contract :
Kesepakatan dimana sesorang dijamin untuk ikut dalam sejumlah produksi namun diperbolehkan untuk bekerja pada produksi lainnya.
Non-Theatrical Film :
Film yang tidak dipertontonkan di bioskop melainkan untuk film pelatihan.
O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)
Outs, Out Takes :
Bagian gambar yang tidak masuk pada versi lengkap dari sebuah film.
Overlap :
Perintah untuk aktor/aktris agar memulai dialog tanpa harus menunggu pemeran lainnya menyelesaikan dialognya.
Opening Scene :
Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita.
Biasanya adegan ini dikemas secara kreatif dan menarik untuk
mendapatkan perhatian dari penonton
PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem warna televisi yang pertama kali dibuat di Jerman, dan digunakan di Eropa dan beberapa negara lain termasuk Indonesia. PAL terdiri dari 625 garis pemindaian berada pada rate 25 frame perdetiknya.
Plot :
Alur cerita dari sebuah naskah.
P.O.V. :
Point of View (Sudut Pandang).
Practical :
Deskripsi dari sesuatu dalam sebuah set film seperti pada kehidupan nyata. Misalnya kompor gas, bak cuci, pintu terbuka, pencahayaan lampu.
Print :
Perintah ketika pengambilan gambar telah lengkap dan dikirim ke laboratorium untuk dikembangkan.
Producer :
Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.
Production Departement :
Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.
Production Assistant :
Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.
Production Manager :
Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.
Production Unit :
Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.
Prop Box (Kotak Properti) :
Tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki roda yang gunanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang kebutuhan suatu produksi.
Prop Man :
Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.
Power Pack :
Tempat khusus untuk pembagian arus listrik
Panning :
Pergerakan horisontal kamera dari kiri kekanan maupun sebaliknya
Rain Cluster :
Sebuah perangkat sprinkler yang dapat digantung diatas kepala untuk memberikan simulasi efek dari hujan. Di sini sering memakai semburan dari mobil pemadam kebakaran.
Raw Stock :
Film yang belum diekspose.
Reaction Shot :
Pengambilan gambar yang dimasukkan dalam sebuah adegan untuk menunjukkan efek kalimat atau tindakan terhadap partisipan lain dalam adegan tersebut.
Reel of Film :
Jumlah film yang akan diproyeksikan dalam waktu 10 menit. 900 feet untuk ukuran 35mm atau 360 feet untuk ukuran 16mm. Gulungan standar dapat menampung film sepanjang 1000 feet untuk 35mm dan 400 feet untuk 16mm.
Reflector :
Pemantul yang permukaannya berlapis perak digunakan untuk memantulkan cahaya. Untuk pengambilan film eksterior reflektor sering digunakan untuk mengarahkan sinar matahari ke bagian dalam suatu adegan.
Release Print :
Married Print yang dibuat untuk didistribusikan ke bioskop setelah answer print (telah disetujui)
Re-Load :
Penanda dari departemen kamera atau tata suara ketika mereka telah kehabisan persediaan untuk merekam.
Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya telah diproduksi.
Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau acara televisi.
Research Departement :
bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum, dan peristiwa dalam sebuah film sebelum produksi film tersebut dijalankan.
Resolution, Resolving Power :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail yang halus.
Re-Take :
Pengulangan sebuah adegan dalam syuting.
Reverse, Reverse Angle :
Lawan dari sudut kamera dari adegan yang baru saja diselsaikan untuk memperlihatkan sisi lain dari gambar.
Rigging :
Sebuah rangka pondasi untuk penyangga lampu penerangan pada suatu set. Sering disebut juga dengan Scaffolding.
Roll, Rool ‘em :
Perintah yang biasanya diberikan oleh asisten sutradara ketika sutradara merasa adegan telah siap untuk pengambilan gambar dengan memfungsikan kamera film dan peralatan rekam lainnya.
Rough Cut :
Penggabungan dari berbagai adegan film menurut suatu cerita yang komprehensip, biasanya sudah dengan dialog dan soundtrack.
Running Shot :
Menggerakkan kamera untuk menyesuaikan dengan aktor/aktris ketika mereka menyeberangi set atau lokasi.
Rushes :
Cetakan dari hasil pengambilan gambar hari itu yang diproses pada hari yang sama sehingga dapat dilihat pada besoknya.
Rundown :
Susunan isi dan alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh
durasi, segmentasi, dan bahasa naskah
Run Through :
Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara yang disesuaikan dengan
urutan acara dalam rundown
Retake :
Pengambilan ulang suatu gambar/adegan
Sandbag :
Tas/bungkusan berisi pasir untuk pemberat.
Scouting :
Mencari lokasi untuk produksi atau bisa juga mencari orang yang berbakat.
Screen Play :
Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melakukan produksi film.
Screen Test :
Sebuah adegan yang memberikan kesempatan bagi aktor/aktris untuk memperlihatkan kemampuannya. Adegan ini biasanya diambil dari film untuk mempertimbangkan seorang aktor/aktris diambil lengkap dengan menggunakan kostum, set, dan riasan.
Scrim :
Sebuah bendera yang dibuat dari materi tembus cahaya. Kegunaannya adalah sebagian untuk mengurangi dan mendifusikan sumber cahaya. Berada ditengah antara sebuah gobo dan sebuah diffuser.
Script Supervisor, Script Clerk :
Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.
Sequence :
Sebuah rangkaian adegan.
Shutter :
Mekanisme kamera yang mencegah cahaya masuk ke film diantara pengukuran frame segingga serial foto yang terpisah memiliki jarak walaupun gulungan film tetap diputar dalam kamera.
Sneak, Sneak Preview :
Pemutaran film di bioskop tanpa pemberitahuan sehingga pembuat film dapat memperoleh tanggapan dari penonton sebelum didistribusikan secara umum. Seringkali tanggapan dari penonton untuk membuat perubahan dalam film yang menurut produser akan membuat film tersebut lebih berhasil dipasaran.
Soft Focus :
pengambilan gambar dengan lensa yang diatur sedikit out of focus sehingga subyek tampak agak buram. seringkali digunakan ketika memfoto seorang aktor.aktris yang mulai terlihat berkerut.
Soft Light :
Pencahayaan lampu yang memungkinkan tidak menghasilkan bayangan dan berpendar secara keseluruhan.
Sound Camera :
Kamera yang beroperasi dengan tenan selama perekaman gambar sehingga suara dapat direkam tanpa adanya bunyi dari kamera.
Splice, Splicing :
Penggabungan akhir dari 2 buah film sehingga terbentuk sebuah kesatuan yang berkesinambungan. Proses ini disebut splicing, hubungannya disebut splice.
Sprocket :
Roda dengan gerigi teratur yang mencengkeram bagian pinggir film untuk menggerakkannya didalam kamera.
Still man, Photographer :
Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.
Stop Frame :
Pengulangan sebuah frame film untuk memberikan efek diam pada aksi. Juga disebut dengan freeze frame.
Story Board :
Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.
Sunshade (Lens Shade) :
Kotak persegi panjang untuk meningkatkan ukuran lensa keluar, dipasangkan pada kamera diabgian lensa depan untuk mencegah masuknya cahaya kedalam lensa.
Super, Superimposure :
Penempatan sebuah gambar diatas gambar lainnya, misalnya title atau subtitle terjemahan bahasa.
Swish Pan :
Gerakan panning ketika kamera digerakkan secara cepat dari sebuah sisi ke sisi lainnya, menyebabkan gambar menjadi kabur untuk memunculkan kesan gerakan mata secara cepat.
Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut yang mudah
Script Format :
Format penulisan naskah acara
Script Marking :
Penandaan pada naskah untuk menjadi catatan bagi sutradara maupun
pendukung produksi lainnya
Stock Shot :
Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk menjadi pilihan pada
saat gambar-gambar tersebut memasuki proses editing
Suspense :
Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan yang menegangkan
dan mengundang rasa was-was bagi penonton
Steady Shot :
Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati
dengan posisi diam
Slow Motion :
Pergerakan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan cerita
Tag, Tag Line :
Kalimat atau tindakan dalam sebuah adegan terakhir dari sebuah film yang diharapkan dapat menjadi puncak dari apa yang telah disuguhkan sebelumnya.
Teaser :
Adegan pertama dari keseluruhan gambar dari cerita. Biasanya adegan yang menarik, digunakan di televisi.
Tele-Photo Lens :
Lensa dengan panjang fokus lebih besar dari normal yang digunakan untuk membuat obyek jauh menjadi dekat.
That’s a Hold :
Perintah dari sutradara pada script supervidor dan asisten kamera bahwa pengambilan gambar yang baru saja selesai tidak akan dikirim ke lab untuk dicetak tapi diberi label “hold” sampai pengambilan gambar lainnya telah selesai dan sutradara memutuskan gambar mana yang akan dicetak.
Tilt :
Menggerakan kamera secara vertikal (naik-turun)
Tone Track :
Soundtrack yang memunculkan bunyi latar yang diasosiasikan dengan lokasi interor atau eksterior. Suara ini biasanya tidak disadari namun memberikan sentuhan realitas yang dibutuhkan oleh sebuah film.
Top Lighting :
Cahaya dari sumber yang diletakkan diatas subyek sehingga turun menyinari.
Transportation Departement :
Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.
Treatment :
Presentasi detail dari cerita sebuah film namun belum berbentuk naskah.
Triangle :
Alat yang digunakan untuk menahan kaki-kaki tripod agar tidak bergerak jika diletakkan di lantai yang licin.
Two/Three Shot :
Perintah yang seringkali digunakan oleh sutradara untuk mengarahkan kamera pada dua/tiga obyek yang dituju.
Unit Manager :
Bertanggungjawab atas kelancaran operasi perusahaan film di lokasi.
Variable Speed Motor :
Variasi kecepatan film di kamera untuk keperluan efek khusus.
Viewfinder :
Instrumen optik yang diletakkan samping kiri blimp yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi sementara kamera sedang berputar.
Voice Cue :
Sinyal vokal dari sutradara atau aktor/aktris dalam adegan bahwa sudah waktunya aktor/aktris lain masuk.
VTR :
Video Tape Recording
Very Long Shot :
Gambar yang diambil dari jarak yang sangat jauh
Voice Over :
Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita (narasi)
Wardrobe Box :
Kotak penyimpanan kostum.
Wardrobe Departement :
Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.
Wild Line :
Kalimat yang biasanya direkam setelah pengambilan gambar atau diakhir syuting pada hari itu. Dipergunakan untuk mengulang kalimat dari suatu adegan yang telah diambil karena tidak jelas.
White Balance :
Prosedur untuk mengoreksi warna gambar dari kamera dengan
mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum warna.
Umumnya prosedur ini menggunakan warna putih sebagai dasar
Wild Recording :
Perekaman yang tidak dilakukan selama proses fotografi. efek suara dan bunyi acak biasanya direkam dengan cara ini, kadang untuk narasi dan musik juga. Seringkali disebut Non-Sync.
Wind Machine :
Kipas angin besar yang ditutup dengan kawat pengaman. Digunakan untuk menciptakan efek angin.
Wipe :
Efek optik antara 2 gambar dimana gambar ke-2 mulai di bagian luar layar dan menghapus gambar pertama sampai dengan garis yang masih terlihat dan pada akhirnya menutupi gambar pertama.
Wrap :
Perintah yang digunakan untuk memberitahukan pada semua orang bahwa syuting pada hari itu sudah selesai.
Dikutip dari www.misteridigital.wordpress.com
Istri - istri Mengamuk
Konflik
Pada Piala Dunia Tigor menonton bola sampai pagi, Welas ( istri ) jadi marah – marah karena setiap hari Tigor selalu bangun kesiangan.Karena merasa tidak enak sama sang istri akhirnya Tigor membawa TV yang di rumah untuk dibawa ke pos ronda agar bisa nonton sepak bola dan Tigor ajak Faisal, Karyo, Gery dan Satpam nonton bareng .endingnya Para istri tahu kalo para suami mereka tidak pulang kerumah dan disiram dengan air satu ember sebagai hukumannya. Read the rest of this entry »
