Perusahaan Forwading Kesulitan cari Sopir Kendaraan Berat

9 Sep 2011

Permasalahan skala nasional seperti sarana infrastruktur jalan, regulasi pemerintah dan beberapa permasalahan lainnya terus menggelayuti para perusahaan jasa forwading hingga saat ini. Namun kenyataan itu mau tak mau harus dikenyam karena bisnis logistik terus berjalan walau keuntungan tak sebanding cost yang dikeluarkan.

Kenyataan itu diperparah lagi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk sopir kendaraan berat seperti trailer dan kendaraan sejenis cukup sulit mencarinya. Bahkan, berdasarkan pantauan Indonesia Shipping Gazette, sepanjang jalur Cakung Cilincing (Cacing) hampir semua perusahaan logistik memasang iklan lowongan untuk sopir trailer.

Menurut Presiden Direktur PT Iron Bird Logistik Andre Djokosoetono mengatakan untuk memenuhi kebutuhan sopir kendaraan berat cukup sulit, hal ini mengingat untuk membawa kendaraan jenis tersebut butuh keahlian lebih.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur PT Hacaca Logistik Cathrine. Dalam merekrut sopir untuk kendaraan seperti trailer hampir setiap hari membuka iklan lowongan untuk mengisi armada yang dimiliki. Dari 96 armada yang dimiliki, hampir separuhnya belum diisi oleh para sopir yang siap mengoperasikan.

Padahal, baik Andre maupun Cathrine mengatakan, pekerjaan sopir kendaraan berat gaji yang ditawarkan cukup menggiurkan, namun sayangnya masyarakat masih menganggap sopir adalah pekerjaan alternatif atau bahkan pekerjaan ‘bawahan’.

Cathrine mengilustrasikan, gaji seorang sopir trailer kurang lebih Rp3 juta rupiah atau setara dengan entry level sarjana strata satu tanpa pengalaman.

“Apalagi kalau pengalaman sopir itu jam terbangnya sudah tinggi, bisa di atas tiga jutaan, padahal basic pendidikan sopir rata-rata SMP hingga SMA,” tutur Cathrine di kantornya.

Di tempat terpisah, Vice President-Port and Costums ALFI Herry Susanto mengatakan untuk dapat mengoperasikan kendaraan berat seperti trailer dan sejenisnya, perlu adanya Surat Izin Operator (SIO) yang dikeluarkan oleh Kementrian Tenaga Kerja (Kemenaker) yang pengaturannya dibantu oleh Subdinas Ketenagakerjaan di masing-masing walikota.

“Sehingga tidak perlu lagi tenaga-tenaga cabutan dipakai, sehingga jika sopir-sopir itu mengantongi sertifikasi itu tau aturan cara mengemudi yang benar,” tutur Herry saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Saat disinggung sulitnya para perusahaan forwading mencari sopir trailer, dia mengatakan bahwa sebetulnya beberapa Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) seperti Volvo, Mercedes Benz dan lain sebagainya sudah memberikan tawaran ataupun training terhadap para perusahaan forwading untuk penyediaan jasa sopir.

“Bahkan pihak ATPM memberikan training-training khusus pada sopir jenis kendaraan berat tersebut, jadi jika mau bekerjasama dengan pihak ATPM saya rasa kekurangan sopir bakal teratasi,” tegas Herry.

Herry menambahkan, populasi kendaraan berat di Indonesia terus menjamur, namun tak sedikit sopir-sopir yang difungsikan terbilang berat sebelah, kalaupun ada kebanyakan sopir cabutan, tentu hal itu cukup membahayakan di jalanan karena kendaraan jenis itu harus mempunyai keahlian lebih dibanding sopir-sopir pada umumnya.(Ayos)


TAGS


-

Author

Follow Me