Investor Malaysia Bangun Terminal Batubara di Pelabuhan KBS

12 Oct 2011

Perusahaan asal Malaysia, MTD Group, meresmikan proyek terminal batubara, Cigading Internasional Bulk Terminal (CIBT) di Pelabuhan Cigading, Cilegon, Banten, Jawa Barat.

PT CIBT merupakan perusahaan usaha yang 95 persen sahamnya dikuasai Sinomast Metacorp (Labuan) Ltd, sebuah usaha patungan 50:50 antara Metacorp Berhard (Metacorp) dan PT Bintang Sinomast Limited. Metacorp adalah perusahaan MTD Group yang bergerak dalam bidang konstruksi, jalan tol, manufaktur, pengembang properti pengelolaan energy dan limbah.

perusahaan asal Malaysia yang dengan resmi menempati lahan milik anak perusahaan PT Krakatau Steel, PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), adalah sebuah bisnis saling menguntungkan yang bersifat BOT dengan jangka waktu selama 32 tahun. Dalam proyek jangka panjang itu, CIBT menggelontorkan dana untuk tahap awal senilai 43 hingga 45 US.

Menurut Presiden dan CEO MTD Group, Dato’ Azmil Khalid mengatakan bahwa tujuan CIBT meresmikan proyek itu untuk menjadi operator terminal batubara kelas dunia sekaligus membangun reputasi yang kuat serta tantangan sebagai pemain baru dalam industri kepelabuhanan di Indonesia.

“Kami berharap fasilitas ini berguna bagi perekonomian Indonesia khususnya di industri batubara,” tutur Dato’ usai meresmikan Terminal batu bara yang disaksikan beberapa perwakilan instansi seperti dari Kementrian Perhubungan, PT Krakatau Steel, MTD Group Malaysia, dan perwakilan gubernur Banten, Rabu (21/09).

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT KBS, Zamhari Hamid mengatakan bahwa PT CIBT merupakan mitra PT KBS yang mempunyai hak eksklusif membangun, membiayai dan mengoperasikan terminal bahan curah internasional yang canggih di area Pelabuhan Cigading/KBS.

“Kita tahu bersama, Indonesia merupakan ekspor batu bara tertinggi di dunia, ditambah lagi kebutuhan energi yang tidak dapat dipenuhi lagi dengan minyak bumi, memaksa dunia untuk berpaling ke batubara, sehingga kondisi tersebut harus dibarengi dengan sarana transportasi yang memadai demi menjamin pasokan batubara bagi industri di dalam maupun luar negeri,” tutur Zamhari.

Dikatakannya, pelabuhan yang diklaim mampu menampung kapal berukuran besar dengan kedalaman 20 meter dan menampung 40-50 juta ton pertahun itu diharapkan dapat mengendalikan logistik nasional, khususnya di pelabuhan. Setidaknya, kata dia, Pelabuhan Cigading mampu menjadi back up Pelabuhan Tanjung Priok yang kini telah menampung sebanyak 4,6 juta TEUs dalam setahun.

Dia menambahkan, sebagai perusahaan yang juga diberikan keleluasaan dalam mengelola Pelabuhan Cigading yang dibangun sejak tahun 1976 itu, KBS juga mempunyai beberapa long term project hingga 2022, sehingga kebutuhan yang diperlukan di pelabuhan dapat dilayani secara maksimal.

“Saat ini kami siap antisipasi seiring investasi yang sedangkan kami jalankan,” tutur Zamhari.

Seperti diketahui, CIBT mempunyai fasilitas terpadu lengkap termasuk bongkar muat barang dan gudang penyimpanan dilengkapi dengan perlatan mesin derwk (crane) untuk bongkar muat barang dari tongkang, alat pembawa barang (conveyor), gudang dan alat memuat barang kembali ke kapal.(Ayos)


TAGS


-

Author

Follow Me